Diduga Miliki Senjata Tajam Ilegal, Empat Petani Digiring Polisi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Empat orang petani digiring anggota Brimob ke Polres Ogan Ilir, Sumatera Selatan karena diduga memiliki senjata tajam ilegal. Peristiwa tersebut terjadi di sekitar Petak 92 Rayon 6 di PT Perkebunan Nusantara VII Cinta Manis, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Ahad (22/7).

Menurut Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Polisi Agus Rianto, anggota Brimob yang sedang bertugas mendapat informasi dari masyarakat bahwa ada beberapa warga yang mempunyai senjata tajam secara tidak sah. Anggota tersebut kemudian menelusuri informasi tersebut dan melakukan pemeriksaan.

Penelusuran mengarah ke sebuah rumah yang di dalamnya terdapat empat dewasa dan seorang bayi. Dari hasil penggeledahan memang ditemukan senjata tajam.

Namun, berdasarkan pengakuan keempat orang itu senjata yang mereka miliki adalah perkakas untuk berkebun. Kendati demikian, petugas tetap membawa mereka dan seorang bayi itu ke Polres Ogan Ilir untuk dengan alasan untuk pemeriksaan.

"Sekitar pukul 23.00 WIB mereka sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya. Senjata tajam itu memang untuk bertani. Kami hanya menindaklanjuti informasi dari masyarakat," ujar Agus, Senin (23/7).

Sebelumnya, pada Senin (16/7) dan Selasa (17/7), ribuan massa yang bersengketa lahan kebun tebu dengan PTPN VII Cinta Manis melakukan aksi pengrusakan dan pembakaran sejumlah mobil, aset PTPN dan lahan perkebunan. Sebagian besar massa ketika itu membawa parang sebagai senjata.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.