Jelajahi Yahoo! Bersama Teman-Teman Anda

Jelajahi berita, video, dan banyak lagi berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman Anda. Publikasikan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.

Pertama-tama,

AKTIVITAS TEMAN DI YAHOO!

    Disebut 'Pulau Neraka' Oleh Majalah Time, Pemprov Bali Meradang (Bagian 1)

    REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR-- Pemerintah Provinsi Bali menyesalkan pemberitaan Majalah Times edisi 1 April 2011 yang menulis bahwa "liburan di Bali ibarat berlibur di neraka (holidays in hell)", kata Kepala Biro Humas dan Protokol Bali Putu Suardhika.

    "Pemberitaan tersebut melecehkan Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Bali tetap pulau surga yang aman untuk dikunjungi. Tidak benar berlibur di Bali seperti di neraka," katanya di Denpasar, Selasa.

    Suardhika mengakui jika persoalan sampah sebagaimana ditulis majalah bulanan tersebut memang menyisakan persoalan bagi pariwisata Bali. Hanya saja, ia menyesalkan pemberitaan tersebut hanya menohok pada wilayah Bali bagian selatan, khususnya Kuta.

    "Bali ini bukan hanya Kuta dan Nusa Dua. Bali ini luas, meski wisatawan mancanegara lebih mengenal kedua wilayah tersebut. Tetapi, persoalan sampah sebagaimana disebutkan itu, sedang dalam tahap penanganan serius Pemprov Bali," kata Suardhika, yang mengaku apa yang dikatakannya merupakan statemen Gubernur Bali Mangku Pastika.

    Dalam kerangka itu, kata Suardhika, Pemprov Bali sudah mendeklarasikan "Bali Clean and Green" untuk menuju "Bali Green Province". Ia mengatakan, ada tiga hal pokok dalam program itu yaitu, "green cultural, green economic serta clean and green.

    Berkaitan dengan pemberitaan oleh majalah terbitan Amerika tersebut, Suardhika juga menampik persoalan kemacetan yang terjadi di Kuta disamakan dengan Jakarta. Pemprov Bali, kata dia, selama ini tidak pernah tinggal diam dan terus mencarikan solusi atas hal itu.

    "Contohnya seperti pembangunan jalan 'underpass' (bawah tanah) di simpang Dewa Ruci, dan jalan di atas perairan (JDP) yang menghubungkan Suwung (Denpasar) menuju Nusa Dua (Badung)," katanya.
    Selain itu, Pemprov Bali juga merencanakan pembangunan kereta lambat (trem) yang akan menghubungkan seluruh Bali.

    PEDOMAN KOMENTAR

    Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


    Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


    Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

     

    34 komentar

    • Brahmakumaris Denpasar  •  1 tahun 1 bulan lalu
      Rasa salut dan bangga kepada Bp Gurbernur Bali Made Mangku Pastika dalam menyikapi apa yang ditulis Andrew Marshall. Ada satu PR lagi yang penting adalah penertiban orang asing yang tinggal di Bali, jangan justru orang sendiri (pribumi) yang kerab ditertibkan bahkan digelandang ke balai banjar. Dalam kasus ini perlu mendapat perhatian yang sangat serius ! yaitu pada tanggal 12 Januari 2011 Kantor Imigrasi Kelas 1 Denpasar telah mendeportasi Pembina Brahma Kumaris Denpasar Janaki Padmanabhan warga negara Malaysia keturunan India, namun kenapa hingga hari ini dia masih tinggal di Jl. Gatot Subroto I No. 53 Denpasar , bahkan menjadi Pembina dengan membentuk Pengurus harian dan inti Brahma Kumaris secara ilegal. Mohon perhatiannya untuk segera dicekal dan dipulangkan secara paksa, karena selama ini warga negara Malaysia tsb merasa dibekengi seorang pejabat di Bali. Jangan hianati bangsa sendiri hanya untuk kepentingan pribadi bahkan membiarkan penyesatan ajaran spiritual berkembang dan rela anak bangsa sendiri diekploitasi bahkan diperlakukan diluar batas kemanusiaan secara wajar.
    • SannY  •  1 tahun 1 bulan lalu
      Saya juga tinggal di Kuta - Bali. Saya rasa apa yang telah di katakan Andrew Marshall tentang keadaan Bali saat ini benar adanya, Saya juga sependapat dengan Andrew Marshall ... terutama menggaris bawahi untuk keamanan dan kenyamanan, berbagai kejahatan seperti : penodongan, penjambretan, penculikan, perampokan, pencurian... itu sangat mengancam para turis *baik turis International maupun domestic* juga untuk orang lokal Bali juga merasa terancam. Sangat setuju untuk pelaksanaan tembak di tempat berbagai tindak kriminalitas. Saya sendiri sangat takut untuk bepergian dimana kejahatan makin marak..dan kalau penangan-nya masih lembek seperti saat ini... para pelaku kriminalitas hanya akan keluar-masuk penjara saja dan tidak ada kapoknya. Tolong di tinjau kembali untuk keamanan di Bali.. hukuman terhadap pelaku kriminalitas masih sangat lembek sehingga pelaku kejahatan makin marak yang dapat mengancam nyawa. Banyaknya pendatang dari daerah luar Bali seperti Jawa dan Sumatra akan menambah sederetan kriminalitas *survei dari hasil kejahatan mayoritas mereka berasal dari orang diluar Bali*. Para gelandangan dan pengemis yang menggangu lalu lintas dan pengguna jalan sebaiknya juga di tertibkan *dikembalikan ke daerah asal mereka*. Dengan banyaknya pengemis, gelandangan dan peminta-minta ini sangat tidak nyaman dan juga tidak mendidik mental anak bangsa. Bali harus ada penganan yang super extra untuk di kenal dunia sebagai Pulau Wisata. Sedikit saran dan kritik semoga bermanfaat :)
      • Ashifa Furniture 1 tahun 1 bulan lalu
        Mau jadi apa BALI tanpa pendatang...???,Emang siapa selama ini yang menghidupkan ekonomi dan pembangunan di BALI???,Segala sesuatu pasti ada resikonya,tinggal kita arif dan bijak dalam menyikapinya,Tolong jangan asal tuduh para pendatang,Saudara2 kita yang asli BALI juga harus INTROPEKSI DIRI.
      • sige 1 tahun 1 bulan lalu
        Benar kawan, smua pihak harus intropeksi diri, bahkan petani di Bali yang kesehariannya macul sawah pun harus intropeksi. Setuju, sejauh masih dlam bahasa yang wajar dan santun. OK calm down saudaraku..^^
    • Pram  •  1 tahun 1 bulan lalu
      Andai mau introspeksi, gak usah tersinggung deh, saya aja yang 6 tahun tinggal di Bali mulai merasakan ketidaknyamanan ini. Antrian di Imigrasi yang luar biasa lambatnya, bandara yang panas dan pengap, taksi yang gak mau pake argo, hotel yang hanya menghargai turis asing. Duh serasa jadi turis kelas bawah deh kalau di Bali. Masuk ke Bar orang Indonesia harus bayar, bule gratis, padahal itu bule cuma beli bir satu lah orang Indonesia royal banget beli minuman.

      Udah deh, akui aja kekurangan2 itu dan terus berbenah diri. Ayo kita masih cinta Bali koq
    • Rahmanto  •  1 tahun 1 bulan lalu
      Marshall benar, tidak usah tersinggung. Terimalah masukan (pedas sekalipun) untuk berbenah menjadi lebih baik dan "smart" ke depan, sehingga Bali benar-benar menjadi pulau dewata (bukan pulau replikasi kesemrawutan Jakarta).
    • ito  •  1 tahun 1 bulan lalu
      Memang tempat wisata di Bali tidak hanya Kuta, tetapi Kuta termasuk yang tervaforit. Saya sudah berulang kali ke Kuta. Kesan saya di pantai Kuta memang banyak sampah bahkan kadang ketemu kotoran ----. Tepi pantai ada kamar kecil tetapi kurang indah dan clean. Jalan-jalan di sekitar Kuta sekarang ini juga sudah semrawut dan padat. Saya pernah ke Bangkok, Kualalumpur, dan Shanghai. Dibanding dengan Kuta Bali, dalam hal lingkungannya seperti kebersihan, fasilitas, dan lalulintas mereka jauh lebih baik. Sebagai first tourism destination of Indonesia, tulisan Andrew sebaiknya digunakan sebagai kritik untuk perbaikan. Bagaiamanapun tulisan dia mencerminkan persepsi publik tentang yang dilihat.
    • mamat plembang  •  1 tahun 1 bulan lalu
      seharusnya bali bersyukur bahwasanya ada seseorang yg mau meneliti tentang perkembangan pariwisata bali....research itu mahal loh biayanya...pemprov bali jadi ga perlu buat tender lg buat research alias gratis..soal hasil penelitian ini y dicermati bener ga salah ga...jgn cuma kebakaran jengglot.....cocok... udah sekolah kok masih bodohh...!!
      • Oye 1 tahun 1 bulan lalu
        riset dari hongkong??
        udah baca belon artikel aslinya? itu bukan hasil penelitian bung.
        itu cuma pandangan sekilas waktu si penulis datang ke bali
        yang jadi masalah karena dia nulis cuma yang jelek2nya
        semua hal juga ada jeleknya ada bagusnya
        tergantung dia liat darimana.
    • Niey Mangkuto  •  1 tahun 1 bulan lalu
      iya,sedang dalam proses aja terus,sedang dalam penanganan serius lah,apalah bahasanya...intinya semua persoalan di Bali tidak ada yang selesai....malah makin bertambah dan makin mengahancurkan Bali...
      sama seperti semua persoalan di negeri ini yang tidak pernah ada yang selesai....
      negeri ini benar2 menuju kehancuran....
    • Pengguna Yahoo!  •  1 tahun 1 bulan lalu
      begini ya teman2 yang berkomentar diatas....sebetulnya saya sangat menghargai coment para teman2. tapi ada hal yang harus teman2 mengerti:
      1 apakah siap jakarta kami tinggalakn untuk menjadi provensai yang memiliki otonomi khusus? sehingga semua keuangan yang kami dapatkan bisa mengatasi masalah yang kami hadapi. agar kami bisa mengolok2 majalah time?
      2 pembuatan jalan itu butuh proses jika ada jalan layang, pura kami dibawah jalan layang itu jadi butuh pengkajian yang bener win win solution bukan seenaka majalah time itu.
      3 sampah? bule2 itu 70% australia, 12% jepang. 8% china korea sisanya manca negara apakah bule itu sudah membuangsapah dengan baik? samapah yang berserakan kebanyak adalah bekas sesajen bukan sampah nuke, sampah negara maju di tempat andrew..
      4 penduduk pendatang. dulu kami tidak pernah mengalami hal seperti ini sampai akhirnya banyaknya penduduk pendatang yang secara tidak langsung tidak mejaga keberisahan dan plat kendaraan bermotor juga memperparah kemacetan.
      terimakasih teman2....
      • Arief 1 tahun 1 bulan lalu
        Bli....introspeksi aja...tinggalkan budaya ngeles......kayak anggota DPR aja ngeles melulu kalo di kritik....
      • Bayu 1 tahun 1 bulan lalu
        ahhahhahahha ngeles aja kaya tukang bajaj.......!!!!
      • nata 1 tahun 1 bulan lalu
        ah, cuma katak dalam tempurung aja nih.... :)
    • Arum  •  1 tahun 1 bulan lalu
      saya orang Jawa, tetapi suami saya orang Bali. Jadi sedikit banyak saya mengetahui seluk beluk orang Bali dengan segala adat istiadatnya... Kalau mau jujur, saya bilang orang Bali itu katrok, ndeso, alias stupid! Mau-maunya mereka diperbudak orang bule... Giliran orang bule yang ngomong, mereka langsung mengiyakan. Kaya'nya, bule is the best buat mereka, sampai2 gaya hidup turis bule (yg sebenarnya mereka datang ke Bali untuk bersenang-senang, & belum tentu gaya hidup mereka di tempat asal seperti itu), ditiru habis2an sama pemuda-pemudi Bali
      Tentang sampah bekas sesajen: saya heran, kenapa sesajen yang bisa menghabiskan dana berpuluh-puluh juta itu dibuang tanpa rasa bertanggung jawab ke sungai, kemudian terbawa arus ke laut, yang akhirnya tentu saja akan dikembalikan lagi oleh ombak laut ke pantai.. Coba kalau sesajen yang semuanya bahan-bahan organik itu dikubur atau diolah untuk dijadikan pupuk, tentu tidak akan ada masalah seperti ini... Untuk masalah yang satu ini, orang Bali sendiri belum tentu bisa menjawab, bolehkah sisa sesajen dijadikan pupuk? Tiap kali saya tanya, mereka sebagian besar tidak tahu kenapa saat upacara adat harus menyediakan sesajen ini-itu. Jawabnya cuma: ya ini dah kebiasaan kami, sudah dari dulu begini, ya dilakukan saja... (?????)
      • Warka Made 1 tahun 1 bulan lalu
        salam kenal mbak saya setuju atas kementar anda saya sebagai orang Bali asli yang tinggal di luar Bali berterima kasih dan menerima saran dan kritik bukan malah marah......
      • Pengguna Yahoo 1 tahun 1 bulan lalu
        Pendapat anda benar. Saya lahir, besar, tinggal di Bali. Org bule sdh jadi ibarat 'kasta' tertinggi di Bali. Tp banyak org Bali yg nggak mau mengakui ini. Terbukti dr tanda jempol terbalik yg diberikan utk komen anda. Sikap mrk kpd bule dibandingkan dgn org lokal (bahkan kpd org Bali sendiri) beda jauh. Bisa dimaklumi, nilai dollar yg berbicara.
      • meder 1 tahun 1 bulan lalu
        @arum, ibu saya rasa tidak semua orang bali itu katrok, ndeso, alias stupid, kalau benar orang bali seperti itu ( katrok, ndeso, alias stupid ) kenapa bali bisa maju dalam pendidikan dan pembangunan dan kalau tdk ada bule kebali mungkin tdk ada pendatang berduyun2 datang kebali ikut mencari rejeki dibali, seberapa persenkah jumlah pemuda - pemudi bali yang terpengaruh oleh gaya hidup bule?
        Sampah yang dilaut itu tidak 100% dari bekas sesajen, malah banyak sampah plastik dan dan potongan kayu, semua sungai di Indonesia mengalir kelaut apa bisa dibuktikan sampah itu berasal dr sungai dibali yang mengalir kelaut. setidaknya kita bersama harus menjaga lingkungan kita agar tidak membuang sampah sembarangan lebih2 kesungai. lihat saja di kota besar lainnya saat banjir sampah menumpuk dipintu air.
        Kami sebagai Hindu Bali membuat sesajen itu memiliki simbul2 dan sesajen itu dibuat sebagai ucapan terimakasih kepada Tuhan atas limpahan anugrah yang diberikan kepada umat manusia, apa yang kami persembahkan hanya sebagaian kecil dari miliknya. klau sudah namanya sampah yang pasti bisa dibuat pupuk organik. terimakasih bu atas kritikan ibu tentang orang bali tapi koq ibu maunya menikah dgn orang bali juga berarti ibu mengatai suami sendiri dan tdk menghargai tanah kelahiran suami
    • Ibay  •  1 tahun 1 bulan lalu
      saya sendiri tinggal di Bali dan memang melihat sendiri sampah2 di Bali yg makin tidak terkendali, saya mencoba mengajak orang2 yang saya kenal untuk membiasakan diri buang sampah pada tempatnya tapi susaaaahhhh bgt merubah habit mereka. Jadi mulailah dari diri sendiri biasakan hidup bersih, biasakan buang sampah di tempatnya biar Bali tidak ketutup cantiknya dan tetap menjadi tujuan wisata dunia.
    • Pandita  •  1 tahun 1 bulan lalu
      Dasar Malaysia busuk, sudah dideportasi masih saja membangkang jangan-jangan Janaki Padmanabhan adalah agen teroris spiritual !!! Inilah akibat aparat yang berkompeten dalam hal ini Kepala Kantor Imigrasi Denpasar tidak tegas, bahkan mungkin terima suap, karena orang Malaysia punya kebiasaan main suap. Tolong segera orang Malaysia tersebut diusir paksa dari bumi Indonesia (Bali)
    • Arief alone....  •  1 tahun 1 bulan lalu
      @sige
      bkn asal setuju mas. intinya tuh ga usah marah kalo ada kritik.

      tp saya setuju sm anda soal komen mba arum. saya rasa udah kelewatan...
    • Jeane  •  1 tahun 1 bulan lalu
      Well walaupun anda2 semua mengkritik Bali, tapi tetep aja masih pada suka main ke Bali kan? Dan para untuk para pendatang yang mengaku sudah tinggal menetap di Bali, tetep aja kalian lebih suka tinggal di Bali kan daripada pulang kembali ke daerah asal kalian, jadi untuk para pendatang tolong deh sama-sama menjaga dan membangun Bali jangan bisanya cuma mengkritik aja.
    • meder  •  1 tahun 1 bulan lalu
      @arum, ibu saya rasa tidak semua orang bali itu katrok, ndeso, alias stupid, kalau benar orang bali seperti itu ( katrok, ndeso, alias stupid ) kenapa bali bisa maju dalam pendidikan dan pembangunan dan kalau tdk ada bule kebali mungkin tdk ada pendatang berduyun2 datang kebali ikut mencari rejeki dibali, seberapa persenkah jumlah pemuda - pemudi bali yang terpengaruh oleh gaya hidup bule?
      Sampah yang dilaut itu tidak 100% dari bekas sesajen, malah banyak sampah plastik dan dan potongan kayu, semua sungai di Indonesia mengalir kelaut apa bisa dibuktikan sampah itu berasal dr sungai dibali yang mengalir kelaut. setidaknya kita bersama harus menjaga lingkungan kita agar tidak membuang sampah sembarangan lebih2 kesungai. lihat saja di kota besar lainnya saat banjir sampah menumpuk dipintu air.
      Kami sebagai Hindu Bali membuat sesajen itu memiliki simbul2 dan sesajen itu dibuat sebagai ucapan terimakasih kepada Tuhan atas limpahan anugrah yang diberikan kepada umat manusia, apa yang kami persembahkan hanya sebagaian kecil dari miliknya. klau sudah namanya sampah yang pasti bisa dibuat pupuk organik. terimakasih bu atas kritikan ibu tentang orang bali tapi koq ibu maunya menikah dgn orang bali juga berarti ibu mengatai suami sendiri dan tdk menghargai tanah kelahiran suami
    • Rakyat miskin  •  1 tahun 1 bulan lalu
      Saya sebagai orang Bali aja melihat klo apa yg diberitakan itu nyata adanya. Baiknya pemerintah lebih tegas lagi melarang pembangunan yang semakin meningkat di Bali. Jangan baru di sogok langsung kasi ijin membangun Pak! Kasian pulau Bali makin berat ntar bisa2 tenggelam.
    • Pengguna Yahoo  •  1 tahun 1 bulan lalu
      Apa yg diberitakan majalah Time itu benar adanya, walaupun tidak mencerminkan keseluruhan Bali. Semua masalah yg ditulis itu, terlihat jelas dalam kurun 10 thn terakhir di kantong2 wisata sekitar Denpasar, Badung (Jimbaran, Kuta, Seminyak, Semer, Canggu) & Ubud.
      Krn itu kenapa harus meradang? Harusnya malah tambah semangat memperbaiki diri.
      1. Pembangunan villa dimana2 tanpa memperhatikan infrastruktur (jalan, pembuangan dll). silahkan cek dgn masuk ke pelosok2 Canggu. Kuta & lihat sendiri)
      2. Kemacetan terutama di jam2 sibuk. Semua org bawa kendaraan pribadi sementara lebar jalan segitu2 aja. Kendaraan umum tidak laku krn tdk nyaman. Siapa yg hrs disalahkan?
      3. Sampah dimana2. Tidak ada sanksi bagi mrk yg membuang sampah sembarangan.
      4. Jalan2 ditambal sulam. pengerjaan lambat & tdk prof. Jadinya berlumpur di waktu hujan. Setelah selesai cuma diaspal ala kadarnya sehingga jalan bergelombang.
      5. Sikap sebagian org lokal yg berlebihan menghadapi org bule dibandingkan dgn sesama org Indonesia. Bisa dimaklumi krn dollar yg mrk bawa lebih bernilai dr rupiah. Akhirnya kembali lg ke sikap materialistis & kapitalis pd sebagian masyarakat.
      6. Sikap Ajeg Bali, malah memunculkan sikap 'anti pendatang lokal' tp pro pendatang bule yg bawa dollar pd sebagian masyarakat.
      Nah, men sube keto, nyen kal pelihang? Sing pemprov bali gen ane pelih bli... sikap masyarakat masih turut berperan..
      Maka mari bersama2 kita memperbaiki diri krn semua kritik itu benar adanya. Tidak perlu jadi meradang & membantah.
      Buat pemprov Bali, jeg bersikap positif dogen. Jemak gae ne ane serius & profesional... de pis ne gen ke juang!!
      Buat nyama Bali konyangan (Bali Kui ataupun pendatang), de bes emosi menyikapi kritik ini. Mari rage sareng sami instropeksi & memperbaiki diri...
      Matur Suksma!
    • Alyn  •  1 tahun 1 bulan lalu
      Saya senang ternyata Indonesia masih ada orang yang berani seperti mas Andrew semoga masih banyak mas Andrew, mas Andrew yang lain!!!!
    • Jessica  •  1 tahun 1 bulan lalu
      In my opinion, traffic jam di Bali ituloh yang harus segera dibenahi. Ke mana-mana jadi susah. Apalagi pas weekend. Belum lagi karena bertambah pesatnya hotel dan villa yang di setiap tikungan ada, jumlah orang Bali yg padat (baik penduduk, ditambah turis domestik & itl.)

      Tapi kalau dibilang Bali adalah pulau neraka, menurut saya itu berlebihan. Masih ada nilai-nilai yang baik, keindahan Bali yang tiada duanya. Dan jangan lupa kalau Bali itu aset Indonesia. Kalau Bali sudah di anggap jelek di mata dunia, waduuuuuuuh, sangat disayangkan.
    • Azwar  •  1 tahun 1 bulan lalu
      kuta is semrawut...
      jalan udah kecil..dibongkar bongkar lagi...
      sepertinya hanya sebuah wacana dan slogan saja tentang pembangunan di bali
    • yohana'nana'  •  1 tahun 1 bulan lalu
      ga cukup dengan program bali green&clean.. tapi gimana caranya pemprov mwujudkan kedalam aksi nyata yang dapat dirasakan langsung sm masyarakat&turis yang datang..
    POLL

    Menurut Anda, apakah penahanan Angelina Sondakh akan berhasil mengungkap kasus korupsi anggaran Wisma Atlet?

    Memuat...
    Opsi Pilihan Jajak Pendapat