Dubes Korea Selatan Berkunjung ke NTB

Mataram (ANTARA) - Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Kim Young-Sun, melakukan kunjungan kehormatan ke Provinsi Nusa Tenggara Barat, selama tiga hari terhitung 3-5 Mei 2012.

Kim Young beserta istri Hong Hye-Sun, dan pejabat pendampingnya, tiba di Bandara Internasional Lombok (BIL), di Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), sekitar 40 kilometer arah utara Kota Mataram, Kamis sekitar pukul 13.50 Wita.

Pejabat pendampingnya yakni Kwon Ki Chang selaku konselor Kedubes Korea Selatan di Jakarta, Lee Mi-ra selaku Atase Kehutanan, Kom Ho-il selaku peneliti, dan Jin Su-Pil selaku Manager Proyek Badan Kerja Sama Internasional Korea atau Korea International Cooperation Agency (KOICA).

Chairil Anwar Siregar dari Badan Litbang Kehutanan Kementerian Kehutanan RI, selaku Asisten Manager Proyek KOICA, juga ikut dalam rombongan Dubes Korea Selatan itu.

Kedatangan Dubes Korea Selatan itu dijemput Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, di BIL hingga digelar pertemuan silaturahmi di bandara itu. Semula pertemuan silturahmi itu diagendakan di ruang kerja Gubernur NTB.

Selanjutnya, Dubes dan rombongan menuju Kampus Universitas Mataram (Unram) guna menggelar pertemuan khusus dengan Rektor Unram Prof DR Sunarpi.

Kabag Humas dan Protokoler Setda NTB H Lalu Moh Faozal, yang mendampingi Gubernur NTB mengatakan, Dubes Korea Selatan itu banyak berkoordinasi tentang jalinan kerja sama yang dibangun dengan pihak terkait di NTB.

Jalinan kerja sama itu antara lain, bidang kehutanan yang dikenal dengan Aforestasi dan Reforestasi (A/R) melalui mekanisme Mekanisme Pembangunan Bersih atau Clean Development Mechanism (CDM), antara KOICA dengan Kementerian Kehutanan RI yang lokasinya di wilayah NTB.


Program A/R dengan mekanisme pendanaan CDM itu mengarah kepada pengembangan kawasan hutan kemasyarakatan, yang akan diimplementasikan melalui mekanisme pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan di negara-negara berkembang atau REDD plus.

Diyakini emisi karbodioksisa (CO2) dari deforestasi mencapai 20 persen, dan untuk mengurangi emisi, upaya utamanya yakni CDM, teknologi hijau, konservasi hutan, aforestasi dan reforestasi, serta REDD plus.

Pada 2011, proyek REDD Koica itu dilaksanakan di dua lokasi kawasan hutan kemasyarakatan di wilayah NTB yang menjadi tempat uji coba pengurangan emisi seperti dikehendaki negara-negara berkembang.

Kedua kawasan hutan kemasyarakatan yang menjadi sasaran program REDD plus itu yakni Aiberik, Kecamatan Batu Kliang, Kabupaten Lombok Tengah, dan lokasi A/R-CDM di Sekaroh, Kabupaten Lombok Timur.

Pemerintah Indonesia dan KOICA akan memberdayakan kawasan hutan seluas 5.000 hektare di dua lokasi uji coba program REDD plus itu, untuk menghasilkan upaya pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan.


Lahan di lokasi proyek kerja sama Indonesia-KOICA itu akan dimanfaatkan seluas 3.300 hektare karena di sana belum ada penanaman pohon. Sisanya sekitar 1.700 hektare berlokasi di Aiberik karena sudah ada penanaman pohon.

Upaya nyata yang akan dilakukan dalam "pilot project" REDD plus itu yakni meningkatkan penanaman pohon sekaligus mencegah agar tidak ada penebangan pohon sama sekali.

"Selain mengagendakan kunjungan ke lokasi proyek kerja sama itu, Dubes dan rombongan juga akan meninjau Taman Nasional Gunung Rinjani, dan lokasi wisata Air Berik," ujar Faozal. (jk)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.