Jelajahi Yahoo! Bersama Teman-Teman Anda

Jelajahi berita, video, dan banyak lagi berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman Anda. Publikasikan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.

Pertama-tama,

AKTIVITAS TEMAN DI YAHOO!

    Dulu Swasembada, Sekarang Indonesia Malah Impor Beras

    TRIBUNNEWS.COM - Panja RUU Pangan melakukan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan pakar bidang pangan yaitu Prof DR Ir. Mochamad Maksum, Prof DR Didik J. Rachbibi, DR. Ir. Drajat Martianto, M.Si dan DR. Ir. Tri Pranadji, M.Si.

    Demikian disampaikan Anggota Panja RUU Pangan Komisi IV DPR RI Hermanto dalam rilis yang dikirim ke redaksi Tribunnews.com, Rabu (15/2/2012).

    Menurut Legislator PKS Dapil Sumbar ini, RDPU membahas masukan mengenai RUU Pangan khususnya BAB IV tentang ketersediaan Pangan. Pembahasan RUU Pangan bersama Panja Pemerintah sudah dimulai sejak 26 Januari 2012. Pembahasan ini merupakan tindak lanjut setelah Pemerintah menyerahkan 776 DIM (Daftar Inventaris Masalah) RUU Pangan. RUU ini merupakan revisi atas Undang-undang No. 7 Tahun 1996 Tentang Pangan.

    Menurut Hermanto, sesuai dengan konsideran yang tercantum dalam RUU ini, revisi dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Pertama, bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia paling utama, karena itu pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas.

    Kedua, bahwa negara berkewajiban menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan keamanan konsumsi Pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional, daerah hingga rumah tangga secara merata diseluruh wilayah Negara Republik Indonesia sepanjang waktu, dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan, dan budaya lokal.

    Ketiga, bahwa dalam perkembangannya, pembangunan pangan di Indonesia yang dahulu dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar rakyatnya bermata pencaharian sebagai petani dan pernah menjadi negara swasembada beras, namun akhir-akhir ini Indonesia lebih dikenal sebagai salah satu negara pengimpor beras terbesar di dunia.

    Keempat, bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant On Economic, Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) Pangan merupakan bagian dari hak asasi manusia.

    Kelima, bahwa Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan masih bersifat sangat umum dan sangat menitikberatkan kepada sektor industri Pangan, sehingga dalam pelaksanaannya ditemui beberapa kendala dalam hal penegakan hukum, menyangkut penerapan sanksi yang relatif masih rendah, dan tidak sesuai lagi dengan era otonomi daerah serta perkembangan di masyarakat, sehingga perlu diganti dengan undang-undang yang baru.Ia berharap, pembahasan RUU ini dapat selesai pada akhir masa sidang III (Maret 2012).

    “Dengan demikian keberadaan RUU ini nantinya diharapkan menjadi payung hukum terkait pangan serta menjawab berbagai permasalahan pangan yang tengah kita hadapi saat dan masa mendatang”, pungkasnya.

    PEDOMAN KOMENTAR

    Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


    Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


    Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

     

    29 komentar

    • Abdul  •  3 bulan yang lalu
      impor beras kan untuk memberi makan mafia beras
    • Suhanto  •  3 bulan yang lalu
      lain dulu lain sekarang,dulu negara agraria & swasembada lalu export beras
      sekarang import beras & negara export TKI/TKW terbesar di asean
      enakan mana rakyat yg merasakannya,kepala pemerintah hanya mengatur saja karna tak merasakan akibatnya,sebab; mereka yg di pemerintahan hidup berkecukupan,rakyat ???
    • Budi  •  3 bulan yang lalu
      Itu menandakan bahwa Indonesia banyak duit.....ga perlu nanem....beli aja. Ngapain repot2
      hahahahahaha....................... GOBLOK.
      Hanya mikirin kantong pribadi tuh wakil2 rakyat
    • Seto W  •  2 bulan yang lalu
      makanye kalo pade punya tanah jangan ditanami beton,...pade nyahok kan sekarang
    • dudung  •  3 bulan yang lalu
      Pemerintah berpihaklah pd petani,stop sawah2 produktif jd pabrik &prumahan, jngn lupa bljr lg dg serius ke ngr2 eksportir brs,knapa mrk bisa? & kmbangkan pangan lain selain beras dg sunggguh2
    • dudung  •  3 bulan yang lalu
      kearifan pangan lokal itu wajib dipelihara spt melihara NKRI,krn itu jngn dibiasakan makan pangan nasi aja semua,dl ada yg mknn pokok jagung,sagu,singkong,umbi2. toh negara kt ckp makmur & mrk sht2
    • Suherman  •  3 bulan yang lalu
      lahan nya aja skarang dah berkurang.. malah jadi perumahan ....
    • Sri  •  3 bulan yang lalu
      kasihan negaraku...petingginya pada kelebihan nafsu...hik..hik..hik...
    • wong cilik  •  3 bulan yang lalu
      bagaimana mau maju negara kita bagaimana mau swasembada beras. presidennya sibuk dg partai. DPR nya sibuk cari jelek lawan politiknya. mentrinya sibuk cari tander proyek. mau jadi apa anak cucu Indonesia besok.
    • Pengguna Yahoo!  •  3 bulan yang lalu
      inilah akibatnya kalo pemerintah swasembada koruptor...
    • dede afandi  •  3 bulan yang lalu
      Swasembadapangan yang dulu sering kita lihat di layar media elektronika dan di rasakan oleh masyarakat Indonesia hanya tinggal kenangan ....
      Salah siapa kah ini,,,?????????????? kalo hanya menjawab penambahan penduduk dan pemakaian lahan perumahan anak SD pun bisa menjawab nya, pa Mulangjoyo yang terhormat he he he he he he he , itu seperti jawaban pejabat pejabat negara di negeri kita saat ini
    • kelinci  •  3 bulan yang lalu
      wajarlah,,,,orang sawahnya juga dah digusur dijadiin komplek perumahan..kayak sawah dibelakang rumah gue.sekarang dah digusur,,,,menyedihkan,,,
    • gunung  •  3 bulan yang lalu
      IRAN SAJA YG SEBELUMNYA MENJADI PENGIPORT GANDUM TERBESAR DIDUNIA. SETELAH DI EMBARGO OLEH AMERIKA DAN ANTEK2 NYA SELAMA 33 TAHUN MALAH BISA SWASEMBADA GANDUM. BRAVO IRAN
    • Robert  •  3 bulan yang lalu
      Sesungguhnya keadaan ini perlu perhatian khusus, dari penghasil beras menjadi kurang
      dan mendatangkan dari luar negeri
    • siswoyo  •  3 bulan yang lalu
      PEMIMPIN YANG PRAKTIS NGGAK PERLU PUSING2 , LAHAN DI INDONESIA MASIH SAANGAAAAAT LUAS....................Pemimpin nggak mau berpikir
      • Faizal 3 bulan yang lalu
        Sebenarnya sih mereka berpikir, tapi bukan buat rakyat, tapi buat mereka dan golongan mereka sendiri, ya kan.
    • badimuzd  •  3 bulan yang lalu
      LANJUTKAN kan... lama2 makan singkong aja kita...
    • Anto  •  3 bulan yang lalu
      Dibandingkan dengan Presiden sebelum dan sesudah Soeharto.
      Presiden Soeharto tetep yang terbaik.
    • Bimo Eexx  •  3 bulan yang lalu
      kaluk dipikir dgn akal sehat lahan pertanian msh luas dinegeri ini cumak para petani yg blm ter,urus, secara baik oleh pemerintah pengada,an pupuk obat bibit msih kurang sehingga bisa mengurangi pruduksi padi ( tnman trsbt ) petani akan rugi.
    • slamet riyanto  •  3 bulan yang lalu
      tergantung "merekanya" aja, mau pa kagak...buktinya sampe sekarang bulog ga mau beli beras petani, malah mengimpor beras dari luar negri,,,betapa kejamnya mereka terhadap petani??petani berharap panen itu bisa dapat uang, tapi apa yg terjadi?ketika panen mulai datang, beras impor juga masuk, harga beras anjlok, buat ganti beli pupuk aja kadang ga cukup..,,,...15 tahun saya jadi petani ga dapet apa-apa, syukur masih hidup...
    • Lu ay  •  3 bulan yang lalu
      negeri ini keranjingan impor, dan impor impor impor lagi ada mafia impor, dan yang tidak diimpor hanya t.....orang asing. Yang ada di dalam dirampok asing, dan yang dari luar diimpor ke sini, lengkap sudah... penderitaan rakyat!
      Negeri ini akan jadi tumpukan sampah impor....