Jakarta (ANTARA) - Pengamat Ekonomi LIPI Agus Eko Nugroho minta pemerintah segera merealisasikan insentif bagi para petani kedelai, berupa lahan dan bibit, serta kemudahan akses pembiayaan.
"Hal itu untuk mendorong petani menanam kedelai dan produksinya bisa menopang kebutuhan masyaraka," kata Agus Eko Nugroho kepada pers saat ditemui di Jakarta, Senin.
Agus menekankan pembebasan bea masuk adalah solusi jangka pendek yang tidak memberi pengaruh signifikan kepada para petani.
Dia menekankan perlunya langkah konkret dari Perum Bulog dengan mengimpor bibit kedelai dalam jumlah besar untuk melepaskan petani dari sistem oligopoli pasar.
"Jika hanya membebaskan bea masuk, para importir besar masih tetap bisa mengendalikan harga, dan yang menjadi korban adalah petani," katanya.
Menurut Agus, disini peran pemerintah untuk melakukan intervensi melalui peran Bulog untuk bisa melindungi para petani dan produksi kedelai dari domestik sebagai basis ketahanan pangan nasional.
Kemudahan finansial
Terkait akses pembiayaan, Agus mengatakan kemudahan finansial bagi para petani bisa diwujudkan melalui kredit dan bantuan sosial lainnya yang sudah dijalankan pemerintah sseperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Namun Agus berpendapat, petani memerlukan peningkatan nilai kredit untuk sektor pangan atau setidaknya seimbang dengan sektor lain.
"Pemerintah memberikan kredit pada sektor yang `profitable` (menguntungkan, -red) seperti perdagangan, sedangkan pertanian hanya mendapat alokasi kurang dari 20 persen, paling hanya 16-18 persen," katanya.
Agus juga menjelaskan mengenai kecenderungan petani yang tidak memilih kedelai. Menurut Agus, hal itu disebabkan perbedaan sistem subsidi yang terjadi sekarang dengan saat Orde Baru.
Dia menjelaskan, jika pada zaman Orde Baru, petani diberikan subsidi pupuk dan penyuluhan tentang produksi kedelai, sehingga kualitasnya bisa bersaing di pasar dan dapat memberi keuntungan. "Sekarang, petani suruh cari tahu sendiri, di pasar tidak ada regulasi pemerintah. Yang ada dominasi importir , jadi mereka bisa mainkan harga," katanya. (ar)


