TEMPO.CO, Jakarta -Kegiatan eksplorasi PT Medco Energi Internasional Tbk di dua bloknya, Blok Rimau PSC dan Blok Senoro Toili PSC, hingga Juli 2012 belum juga membuahkan hasil. Direktur Utama Medco Lukman Mahfoedz mengatakan eksplorasi di kedua blok telah menghabiskan dana US$ 12,64 juta. Setiap kegiatan yang dilakukan di blok itu pun telah melalui beberapa tahapan.
"Kegiatan pengeboran di Blok Rimau akan dilakukan sampai kedalaman akhir 396 kaki MD. Sampai akhir Juli, pemboran baru sampai 378 kaki MD," ujar Lukman dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Senin, 13 Agustus 2012.
Meski pemboran telah dilakukan, perusahaan belum memperoleh hasil dari blok itu. Rencananya, Medco akan melakukan uji sumur di blok itu. Adapun total biaya yang dikeluarkan hingga Juli mencapai US$ 982,19 ribu.
Blok Rimau semula dikelola PT Stanvac Indonesia di mana kepemilikannya terdiri atas 50 persen Exxon dan 50 persen Mobil Oil. Pada 22 Desember 1995, Medco E&P Indonesia mengambil alih 95 persen di sana dan Perusahaan Daerah Pertambangan & Energi Sumsel 5 persen.
Selain pemboran, perusahaan juga melakukan kegiatan seismik Blok Rimau yang berlokasi di Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin dengan total panjang 400 kilometer. Kegiatan seismik ini memakan biaya sebesar US$ 3,65 juta hingga Juli 2012. "Kegiatan ini juga belum memberikan hasil," ujar Lukman.
Kegiatan seismik yang dilakukan di Blok Senoro juga belum menghasilkan minyak yang diharapkan perusahaan. Survei yang dilakukan pada 29 Desember 2011 hingga Juli ini baru mencapai survei marine 2D 401 kilometer, survei topografi 542,8 kilometer, drilling 6.900 SP.
"Rencananya, kami akan melanjutkan pengelolaan data hasil rekaman seismik untuk mendapatkan data volume 3D yang menggunakan data velocity kedua," ujar Lukman. Kegiatan di blok yang berlokasi di Sulawesi Tengah itu memakan biaya US$ 8 juta hingga Juli 2012.
Blok Senoro dimiliki oleh tiga pihak. JOB Pertamina Medco Tomori Sulawesi memiliki 50 persen, Medco E&P Tomori Sulawesi memiliki 30 persen, dan Tomori E&P Limited sebesar 20 persen.
SUTJI DECILYA
Kedelai Lokal Tidak Dilirik Pengusaha Tahu Tempe
Penghematan, Pelni Ganti Solar ke Gas
Jelang Lebaran, Investor Kurangi Portofolio


