TEMPO.CO, New York - Euro mengalami penurunan mingguan paling besar sepanjang tahun 2012 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) karena penolakan bailout di Yunani serta makin dalamnya krisis di Spanyol.
Mata uang bersama Uni Eropa melorot dalam mingguan untuk kelima kalinya terhadap yen, terpanjang sejak Oktober, akibat menyusutnya manufaktur Jerman dan bank sentral Jepang (BoJ) yang menahan diri untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Hanya real Brasil yang berhasil menguat terhadap dolar AS dipasar uang.
Dolar Australia dan Selandia Baru turun setelah laporan ekonomi Cina menunjukkan pelambatan. Sementara laporan data penambahan tenaga kerja AS diperkirakan akan tumbuh dari bulan sebelumnya dapat memicu apresiasi greenback (sebutan dolar AS).
»Tingginya ketidakpastian, pelambatnya pertumbuhan dan masalah Yunani akan menjadi wild card,” Aroop Catterjee, ahli strategi mata uang dari Barclays Plc di New York. Sepertinya euro akan kembali melemah lebih dalam dalam beberapa waktu kedepan selama tidak ada sentimen positif.”
Mata uang euro turun 2,1 persen sepanjang pekan ini ke US$ 1,2517, bahkan sempat menyentuh level terendahnya ke US$ 1,2496 yang merupakan level terlemahnya sejak Juli 2010. Mata uang tunggal 17 Negara Eropa juga merosot 1,2 persen menjadi 99,75 yen, untuk pertama kalinya berada dibawah level 100 sejak Februari lalu. Sedangkan yen Jepang turun 0,08 persen menjadi 79,68 per dolar AS.
Para pengelola dana spekulator besar meningkatkan taruhannya bahwa euro akan turun terhadap dolar AS membuat mata uang tunggal jatuh dalam sepekan berturut - turut. Dan untuk pekan depan kemungkinan euro melemah masih sangat terbuka.
Risiko mengambil risiko investor mereda membuat euro jauh ke level terendahnya dibawah US$ 1,25 untuk pertama kalinya dalam 22 bulan terakhir.
Para pemimpin Eropa yang tidak mengumumkan langkah baru untuk membendung meluasnya krisis pada pertemuan tingkat tinggi di Brussel pekan ini. Para pemimpin Eropa melakukan pertemuan akibat Yunani akan melakukan pemilihan umum pada 17 Juni mendatang dan partai yang menolak dana talangan menempati posisi kedua dalam jajak pendapat 6 mei lalu.
Sedangkan hasil jajak pendapat 24 Mei lalu, partai Syriza mendapat dukungan 27,2 pesen, sehingga makin meningkat spekulasi bahwa Negeri Para Dewa akan keluar dari Uni Eropa.
Mata unag euro melemah dibawah US$ 1,25 untuk pertama kalinya dalam 22 bulan terakhir setelah presiden Catalonia, salah satu dari 17 semi otonomi di daerah Spanyol mengulangi seruannya agar pemerintah pusat untuk membantu pendanaan daerah, Standard & Poor’s memangkas lima bank Spanyol, serta bankia memerlukan bantuan pemerintah senilai 19 miliar euro (US$ 23,8 miliar).
Cina kemungkinan akan mengalami penurunan pinjaman mungkin untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir, menurut laporan Bloomberg. Permintaan kredit menyusut karena menurunnya ekspor dan permintaan rumah baru juga merosot.
Aussie, sebutan dolar Australia turun 0,09 persen menjadi 97,58 sen dolar AS. Ddolar AS juga sempat merosot hingga 96,9 sen per deola AS dan merupakan level terendahnya dalam enam bulan terakhir.
Sementara kiwi, sebutan dolar Selandia baru juga melemah menjadi 0,03 persen menjadi 75,4 sen dolar AS, juga mencapai level terendahnya sejak November lalu di 74,75 sen dolar AS.
Sinyal pelambatan ekonomi Negeri Tirai Bambu membuat Aussie dan Kiwi terdepresiasi terhadap dolar AS. Karena Cina merupakan mitra dagan terbesar Australia dan merupakan tujuan ekspor terbesar kedua dari Selandia Baru.
BLOOMBERG | VIVA B. KUSNANDAR


