Geng Pembantai Bayaran itu Bernama Shabiha

Liputan6.com, Damaskus: Selama ini publik dunia hanya tahu bahwa pelaku pembantaian terhadap warga sipil Suriah adalah pihak militer pemerintah. Namun sebenarnya ada lagi kelompok yang menjadi kaki tangan Presiden Bashar al-Assad. Mereka disebut Shabiha.

Seorang dokter bernama Mousab Azzawi mengungkapkan bahwa orang-orang Shabiha seperti monster. Menurut dokter yang membuka klinik di kota pelabuhan Latakia, Suriah itu, perawakan orang Shabiha sangat menyeramkan, tinggi, besar, namun berotak tumpul. Mereka hanya mengandalkan kekuatan ketimbang pikiran, karena IQ-nya rendah.

"Mereka seperti monster. Ototnya besar, perutnya besar, dengan jenggot yang lebat. Mereka berperawakan tinggi dan menakutkan. Mereka menggunakan steroid untuk membesarkan tubuh. Tapi saya harus melayani mereka seperti anak kecil, karena kecerdasan mereka sepertinya rendah. Tenaga besar, tapi kecerdasan minim, itulah yang menakutkan. Kombinasi antara kekuatan dan fanatisme buta pada rezim," kata Azzawi.

Seperti namanya, Shabiha. Kata Shabiha berasal dari bahasa Arab "Shabah" yang berarti hantu. Mereka memakai kaos hitan dan tubuhnya dipenuhi dengan tato. Mereka membantai para pemberontak dan warga sipil menggunakan pedang dan senapan AK-47. Mereka berperang di bawah kendali Assad dengan bayaran 200 dolar AS per hari.

Badan hak asasi manusia menyebut Shabiha sebagai kelompok yang terjaring dalam perdagangan narkoba. Mereka bermarkas di Latakia dan menjadi "otot kekejaman" Presiden Assad.

"Shabiha adalah kelompok pembantai yang dibayar rezim pemerintah, sementara pemerintah dengan cerdiknya menyatakan bahwa mereka tidak melakukan kekerasan parah, tapi mereka menuduh kelompok lain," ujar Direktur Pusat Penelitian Gremmo Perancis, Fabrice Balanche. [baca: Pemerintah Suriah Bantah Terlibat Pembantaian].

Awalnya, Shabiha adalah sebuah kelompok mafia yang mencari uang dengan memeras dan menyelundupkan barang dari Lebanon ke Suriah. Rezim Assad tutup mata dan telinga menanggapi kelakuan Shabiha di Suriah, bahkan pemerintah malah menyuntik dana untuk aksi mereka. Oleh karena itu, kelompok Shabiha merasa berutang budi kepada Assad, sehingga mereka membantu pemerintah melawan para pemberontak.

Sebenarnya, kelompok ini sudah dimanfaatkan sejak pemerintahan ayah Bashar al-Assad, yakni Presiden Hafez al-Assad. Pada tahun 1970-an para Shabiha dimanfaatkan untuk membuat rakyat Suriah tunduk dan mencuci otak militer demi kelangsungan rezim. Alhasil, Hafez berhasil menjabat selama tiga dekade, dilanjutkan oleh putranya. Kini, tentara Shabiha digunakan Assad untuk menekan warga yang menentang rezim pemerintah.

Akhir Mei lalu, sebanyak 108 orang di kota Houla dibantai, lebih dari 30 di antaranya anak-anak. Saksi mata mengatakan, pelakunya adalah para Shabiha. Kawanan pembantai ini menembak dari dekat dan menusuk korbannya, tidak peduli wanita dan anak-anak. Peristiwa terbaru terjadi kemarin, di desa Qubair dan Maarzaf, sekitar 20 km utara kota Hama. Sebanyak 86 orang tewas, lebih dari 20 di antaranya anak-anak.

Seorang saksi hidup dari pembantaian di kota Houla, mengatakan dia tahu betul bahwa penyerang mereka adalah Shabiha dan bukan tentara. Sebab para Shabiha menggunakan sepatu kets putih, bukan boot militer. Sepatu putih inilah yang menjadi sinyal bagi warga untuk segera melarikan diri. (NewYorkPost/al-arabiya/Vin)