Liputan6.com, Jakarta: Di tengah aktivitas puasa selama Ramadan ini, bagi pemain Muslim, Timnas Indonesia tetap dijadwalkan menjalani latihan jelang berlaga di Grup E putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2014. Salah satu porsi justru dititikberatkan pada peningkatan fisik para pemain.
Lemahnya fisik menjadi permasalahan yang tampak saat menghadapi Turkmenistan di putaran sebelumnya. Pada leg kedua di Jakarta, Timnas kedodoran memasuki pertengahan babak kedua. Alhasil, gawang Timnas bobol dua kali memasuki delapan menit terakhir yang ironisnya di saat lawan bermain dengan 10 orang.
Pelatih Timnas Wim Rijsbergen menyadari akan hal itu. Fisik melemah dan juga konsentrasi pemain, kata dia, seusai laga di Stadion Utama Gelora Bung Karno pekan lalu. Karena itu pelatih asal Belanda itu sangat senang ketika manajemen Timnas hendak mendatangkan pelatih fisik profesional dari Eropa.
Saat ini permasalahan utama para pemain adalah daya tahan dan fisik pemain yang masih di bawah standar. Oleh karena itu dibutuhkan pelatih fisik khusus yang nantinya akan membantu pemain dalam menggenjot kekuatan fisik, kata Rijsbergen.
Pelatih khusus fisik itu nantinya juga diharapkan bisa memperbaiki VO2 Max Firman Utina dan kawan-kawan, kata Rijsbergen menambahkan. VO2 Max adalah volume maksimal oksigen yang diproses tubuh manusia pada saat melakukan kegiatan intensif.
Menyiasati Bulan Puasa, porsi latihan akan diubah. Selain menjalani latihan di sore hari, kemungkinan Timnas akan menjalani sesi latihan kedua di malam hari. Timnas membuka pertandingan di Grup E melawan Iran pada 3 September di Teheran. Sebelum bertolak pada 29 Agustus, skuat Tim Merah Putih menjalani karantina di Cilegon, Banten. Selain Iran, Indonesia bergabung bersama Qatar dan Bahrain.(DIM/PSSI)


3 komentar