Bamako (AFP/ANTARA) - Pemberontak Mali menembaki para pemrotes di kota Gao di utara Selasa menewaskan setidaknya seorang dan mencederai beberapa orang lainnya, kata para saksi mata kepada AFP.
Unjuk rasa itu dilakukan untuk memprotes kematian seorang pejabat pemerintah lokal yang ditembak Senin di Gao, yang diduduki gerilyawan Tuareg dan Islam hampir tiga bulan lalu.
"Kami melakukan protes kematian anggota dewan kota kami," kata guru Oumar Diankante, yang mengatakan itu adalah tindakan Gerakan Nasional bagi Pembebasan Azawad (MNLA) gerilyawan Tuareg menembaki para pemrotes.
"Saya melihat seorang tewas, beberapa orang lainnya mengatakan ada beberapa orang yang tewas," katanya.
"Ini serius. Gerilyawan (MNLA) menembak kami karena kami melakukan unjuk rasa," kata saksi mata lainnya yang tidak bersedia namanya disebutkan.
Satu sumber rumah sakit di Gao mengatakan "lima orang yang luka tembak" telah dirawat, tetapi tidak jelas apakah itu anggota MNLA atau kelomok Ansar Dine yang menembak.
Gao adalah satu dari beberapa kota utama di Mali utara, daerah yang lebih luas dari Prancis, yang diduduki dua kelompok gerilyawan dengan ideologi-ideologi dan tujuan-tujuan yang sangat berbeda, setelah kudeta di Bamako 22 Maret.
Tuareg mengumumkan kemerdekaan bagi daerah mereka yang mereka sebut Azawad, satu tuntutan yang menimbulkan beberapa kali pemberontakan dalam puluhan tahun belakangan ini karena para suku yang sering berkelana itu merasa dipinggirkan oleh pemerintah selatan.
Ansar Dine menginginkan satu negara Islam yang didasarkan pada hukum Islam yang telah mulai mereka laksanakan.
Para gerilyawan Islam didukung Al Qaida di Magribi Islam (AQIM)_satu klompok sempalan yang menemakan dirinya Gerakan bagi Persatuan dan Jihad di Agrika Barat (MUJAO)-- keduanya terlibat dalam penculikan para warga asing dengan menuntut uang tebusan.
Pendudukan baru-baru ini menimbulkan kecemasan di barat bahwa Mali dapat menjadi sarang kegiatan teroris.
Penembakan kadang-kadang masih terjadi di Gao pada Selasa petang, kata para saksi mata dan menambahkan para pemuda telah memasang barikade-barikade di sekitar kota itu dan mengacung-acungkan bendera nasional Mali.
"Kami tidak menginginkan MNLA atau MUJAO berada di Gao. Tentara Mali harus segera datang untuk membantu kami menghalau para gerilyawan bersenjata ini," kata Moustapha Maiga, seornag pejabat pemerintah lokal dari satu kota terdekat.
Gao adalah kota pertama di zona itu yang melakukan protes terhadap penduduan ketika pria-pria bersenjata Mei melarang para pemuda bermain sepak bola dan menonton televisi, yang memicu aksi protes terhadap kelompok gerilyawan itu. (jk)

