Hadiah Apkasi untuk Indonesian Idol Tidak Tepat

TRIBUNNEWS.COM SANGATTA, Polemik pemberian hadiah di ajang Indonesian Idol senilai Rp 350 juta oleh Bupati Kutai Tumur, Isran Noor, terus mengemuka. Sorotan tajam pun tertuju setelah Isran menyatakan dana tersebut diberikan atas nama Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi).

Juru bicara Ikatan Cendekiawan Dayak (ICD) Borneo untuk Kutai Timur, Felly Lung, Rabu (27/6/2012), menilai pemberian hadiah dari Apkasi untuk ajang Indonesian Idol yang merupakan "franchising" internasional yang berorientasi bisnis dan memburu profit sangat tidak tepat.

"Apa hubungan Apkasi dengan Indonesian Idol? Pertanyaan ini terus menjadi pembicaraan di facebook, twitter, dan Youtube. Pemberian hadiah oleh Apkasi ke ajang franchising yang profit oriented dan banjir sponsor itu sangat tidak tepat," kata Ketua Aliansi Dayak Bersatu Kutim, yang juga Wakil Ketua KNPI Kutim itu.

Apalagi hal tersebut dilakukan di tengah perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan Tari Tor-tor asli Sumatra atas klam Malaysia. Ia menegaskan, daripada dana Rp 350 juta disumbangkan ke Idol, lebih baik digunakan untuk memproses hak paten kebudayaan daerah dari berbagai kabupaten yang bergabung di Apkasi. "Sekaligus untuk mempromosikan budaya daerah ke pentas nasional sampai Internasional," katanya.

Ia menilai, diperlukan penelaahan untuk memperjelas sumber dana hadiah Idol itu benar dari Apkasi atau Isran Noor secara pribadi? Jika benar dari Apkasi, maka Host Idol, Daniel Mananta, sudah melakukan kesalahan fatal karena menimbulkan persepsi buruk di publik.

Khususnya terhadap Isran Noor dengan menyatakan bahwa sumbangan tersebut berasal dari Isran Noor, tanpa menyebutkan hadiah dari Apkasi. "Jika memang demikian, Daniel Mananta dan Indonesian Idol harus meminta maaf ke Isran Noor dan rakyat Kutim," katanya.

Pada sisi lain, Isran harus memberikan penjelasan secara terbuka dalam hearing di DPRD Kutim. "Termasuk penjelasan tentang kegiatan beliau sebagai Ketua Apkasi yang berdampak seringnya meninggalkan Kutim, namun justru muncul di berbagai acara yang disiarkan televisi, dan ujung-ujungnya menjadi sorotan di social media," katanya.

Menurutnya, masyarakat Kutim patut berbangga karena Bupati Kutim menjadi Ketua Apkasi dan dikenal dengan banyaknya spanduk atau baliho yang memuat foto Isran di berbagai daerah di Nusantara.

"Pada sisi lain, kamu juga mempertanyakan apa itu Apkasi, apa program kerjanya, bagaimana AD/ART-nya, dan dari mana dana operasionalnya. Selama ini tidak pernah ada penjelasan terbuka. Di internet juga masih sulit dicari. Sehingga wajar jika masyarakat bertanya-tanya tentang Apkasi," katanya.

Selain itu, diperlukan penjelasan pula tentang sumber dana Apkasi, apakah berasal dari penghasilan para kepala daerah, iuran kepala daerah, atau justru berasal dari APBD atau APBN. Begitu juga dengan pemanfaatannya, apakah melalui mekanisme yang terkontrol dan dianggarkan spesifik dalam setiap kegiatan.

"Jika memang ada mekanisme yang terkontrol dan terprogram, maka terjawab sudah bahwa tindakan Apkasi memberikan hadiah Rp 350 juta untuk top five Indonesian Idol sudah menimbulkan keprihatinan kita sebagai anak bangsa. Di saat kebudayaan daerah membutuhkan dukungan, dana justru diberikan untuk Idol," katanya.

Ia menegaskan pula, saat ini masyarakat sudah semakin cerdas dalam memantau pemerintahan. Kritik terbuka dari publik atas kebijakan pemerintah dinilai tidak tepat juga merupakan dinamika yang baik dalam berdemokrasi.

"Dan pemerintah akan terus mendapat sorotan publik dalam mempertanggungjawabkan jalannya pemerintahan yang mengacu pada otonomi daerah. Tentunya otonomi yang tepat sasaran dan dinikmati semua lapisan masyarakat," katanya.

Sebelumnya, Isran Noor angkat bicara bahwa uang senilai Rp 350 juta itu bukan berasal dari keuangan kabupaten Kutai Timur (Kutim). Namun dana itu bersumber dari para bupati se-Indonesia yang bergabung dalam Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi).

“Ini perlu saya luruskan agar masyarakat tidak salah persepsi. Uang yang saya serahkan kepada Indonesian Idol yang nilainya Rp 350 juta itu bukan uang Pemkab Kutim, tapi uang dari para bupati se Indonesia yang bergabung dalam Apkasi,” kata Isran dalam pidatonya di acara pembukaan Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) Kutim di lantai 1 ruang Aksia, Gedung Serba Guna (GSG), Komplek Perkantoran Bukit Pelangi, Senin (25/6).

Isran sengaja menjelaskan hal tersebut karena masuknya beberapa SMS berisi kritik di ponselnya. Isran telah menerima beberapa SMS dari oknum tertentu. Sayangnya, yang melakukan SMS ke ponselnya tidak menuliskan nama pengirim, tapi yang ada hanya nomor ponsel pengirim.

“Seandainya orang yang SMS ke nomor HP saya tahu yang sesungguhnya, mungkin ia tidak akan melakukan. Tapi saya yakin orang itu belum paham yang sebenarnya. Jadi kepada wartawan, ini perlu disampaikan kepada masyarakat agar tidak menimbulkan salah sangka,” kata Isran Noor dalam pidatonya. (kholish chered)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Apakah Anda percaya pengerjaan proyek MRT yang sudah resmi dimulai akan berjalan tepat waktu sesuai rencana?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat