REPUBLIKA.CO.ID, "Hai orang musyrik apakah kamu merasa lebih beruntung ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9.
Bunyi Surah Az-Zumar ayat 9 itu menyentuh sanubari Hagar. Ia tiada henti memikirkannya. "Aku bergumam dalam hati, yang harus kulakukan agar mengerti hakikat hidup ini adalah mencari pengetahuan," tuturnya.
Pengetahuan itu, dalam pemahaman Hagar, dapat diperoleh melalui membaca buku, mempelajari filosofi dan pikiran. Tapi nyatanya, pengetahuan yang dimaksud belum membawa dirinya menemukan makna kehidupan.
Hagar merasa frustasi dengan kondisi yang dialaminya, hingga pada akhirnya ia mengalami depresi. Selama depresi, ia tidak percaya kepada Tuhan. Ia mungkin penganut Protestan. Tapi apa yang ia dengar dan percaya adalah omong kosong.
Kitab perjanjian baru atau lama tidak membuatnya tersenyum. Ia sadar, Alkitab telah meninggalkannya dalam keadaan hampa dan kering. "Dapat aku simpulkan, bahwa dunia dalam penggambaran Alkitab sungguh tidak adil. Kata-kata Alkitab sangat baik, tapi tidak lebih dari ucapan manusia," kata dia.
Hagar melihat agama tidak lebih dari cara menjaga kaum miskin dan orang tertindas yang dipaksa tenang, puas, dan tunduk seperti ternak. Pikirnya, itu benar-benar candu kehidupan.
Dalam bayangannya, jika Tuhan ada, ia tampak sinis dan tidak adil. "Melihat hal ini, aku tidak akan membuat kesepakatan dengan orang-orang tidak adil. Begitu pula, aku tidak akan membuat kesepakatan dengan Tuhan yang tidak adil," ancamnya.
Semenjak itu, Hagar tidak pernah lagi berharap dengan keberadaan Tuhan. Ia hanya menginginkan hidup seperti yang dijalani orang lain seperti bekerja, tiba di rumah, menonton TV dan membaca buku karya Sidney Sheldon.
Dengan jujur, Hagar menyadari dirinya masih kesal dengan ketidakadilan yang terjadi. Ia mulai berhenti melihat kemungkinan ide di balik segala penciptaan. Dengan putus asa, ia jadikan makna penciptaan tak lebih dari sebuah konsep kehidupan yang tercetus begitu saja atau spontanitas.



Yahoo! OMG