Washington (AFP/ANTARA) - Amerika Serikat, Selasa, mengatakan pihaknya berharap pembantaian di Suriah memicu sebuah "titik balik" dalam keengganan Rusia untuk mengambil tindakan lebih keras terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Washington menyambut fakta "Rusia bersedia melakukan penyelidikan menyeluruh (atas pembantaian tersebut) karena kami pikir apa yang akan muncul dalam penyelidikan itu tidak bisa dibantah," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Victoria Nuland.
"Penyelidikan akan menunjukkan, ini adalah rezim yang disponsori preman yang pergi ke desa-desa, pergi ke rumah-rumah dan membunuh anak-anak dan orang tua mereka dari jarak dekat. Dan tanggung jawab harus dikembalikan kepada rezim Assad," Katanya.
"Dari perspektif itu, apakah ini akan menjadi titik balik dalam pemikiran Rusia? Kami harap begitu," katanya kepada wartawan ketika ditanya apakah Washington melihat tanda-tanda Moskow akan melakukan tindakan yang lebih tegas terhadap Suriah.
Dengan dukungan Rusia dan Cina, Dewan Keamanan PBB pada hari Minggu mengecam keras pemerintah Suriah karena menggunakan artileri dalam pembantaian di mana sedikitnya 108 orang tewas dan 300 lainnya terluka.
Rusia, seperti China, sebelumnya menentang dua resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk rezim Assad.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, Senin, Rusia bukan pendukung pemerintahan Assad tapi mengatakan kepada kekuatan dunia untuk berkonsentrasi untuk mengakhiri kekerasan yang terus terjadi bukan perubahan rezim.(nn/ml)

