INILAH.COM, Jakarta - Pasca mogok massal pengrajin kedelai pekan lalu, Pusat Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) masih belum menerima keputusan turunnya harga kedelai karena dianggap belum ideal.
"Walau kenyataannya harga sudah Rp7500, tapi bagi kami idealnya Rp6 ribu sampai Rp6.500, jadi masih belum menerima, ini soal stabilitas harga," kata Kepala Puskopti Jakarta Selatan, Sutaryo saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (30/7/2012).
Lebih jauh ia mengungkapkan dengan rencana pembebasan bea masuk yang dilakukan pemerintah tetap tidak akan mempengaruhi stabilitas harga kedelai.
"Persoalan harga kedelai sudah terpaut dengan harga dunia jadi kemungkinan sulit (stabilisasi harga)," ujarnya.
Sutaryo juga mengunkapkan saat ini (30/7/2012) dengan harga kedelai sudah Rp7.500 yang turun dari Rp8 ribu masih memiliki kemungkinan naik.
"Ini kemungkinan naik lagi sekitar Rp 200 sampai Rp250 rupiah pasti ada," ucapnya.
Berdasarkan data produksi ungkapnya satu kilogram kedelai pengrajin bisa memproduksi satu setengah kilogram tahu dan tempe.
"Untuk DKI saja kebutuhan kedelai mencapai 10rb ton, untuk tempe 70%, sedangkan tahu 30%," pungkasnya.
Sebelumnya Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamusrti mengatakan keterbukaan informasi global membuat petani mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga dunia.
"Petani kita pasti beranggapan masak harga dunia naik, sedangkan harga domestik tidak," kata Wamendag pekan lalu. [rus]
Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri (Menlu), Marty Natalegawa, menolak menyebut langkah kebijakan kerja sama perdagangan Indonesia sebagai penyebab kebangkrutan para peternak sapi di Australia terutama bagian utara. "Terlalu jauh untuk mengatakan bahwa Indonesia sudah membuat peternak sapi Australia bangkrut," kata Marty di kantornya di Jakarta, Jumat. Menurut Marty, pendekatan kerja sama ekonomi sudah prinsip dasarnya adalah saling menguntungkan supaya bisa bertahan lama. ...


