New Yorks (AFP/ANTARA) - Harga minyak mengalami rebound pada Senin, dari penurunan tajam pekan lalu, menjelang pembicaraan Kelompok Tujuh (Group of Seven/G7) tentang krisis utang zona euro.
Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli, mengakhiri sesi pada 83,98 dolar AS (sekitar Rp 794,65 ribu) per barel, naik 75 sen dari tingkat penutupan Jumat.
Kontrak acuan berjangka itu telah menukik 3,30 dolar AS (sekitar Rp 31,22 ribu) pada Jumat ke posisi terendah Oktober. Menurut John Kilduff dari Again Capital, pasar tampak stabil setelah WTI kehilangan sekitar 25 dolar AS (sekitar Rp 236,57 ribu) dalam sebulan.
Di perdagangan London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli naik 42 sen untuk menetap pada posisi 98,85 dolar AS (sekitar Rp 935,41 ribu) per barel. Minyak mentah Brent telah merosot 15 persen selama Mei.
Pada Senin, Menteri Keuangan Kanada Jim Flaherty mengatakan G7 dan kekuatan ekonomi lainnya akan melakukan pembicaraan melalui telepon tentang peningkatan krisis dan kelemahan di beberapa bank Eropa pada Selasa.
Selain Kanada, negara-negara G7 termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang dan Amerika Serikat.
Pekan lalu, survei pembelian manajer untuk Mei tampak suram di India, China, Amerika Serikat, negara zona euro dan negara lainnya, semua mengindikasikan pertumbuhan ekonomi global lebih lambat, sehingga menurunkan ekspektasi permintaan minyak.
Pada Jumat, laporan bulanan tenaga kerja AS pada Mei menunjukkan penurunan tajam dalam penciptaan lapangan kerja, hingga hanya menjadi 69.000 pekerjaan di negara dengan konsumsi minyak terbesar di dunia tersebut.
"Pasar energi mengalami tiga hantaman pertumbuhan ekonomi yang lemah (AS, China dan Eropa)," kata Justin Harper, ahli strategi pasar di IG Markets Singapura. (yg/ik)

