Penghargaan buat SBY

Helikopter Logistik Pemilu Libya Diserang Tembakan, Seorang Tewas

Benghazi, Libya (AFP/ANTARA) - Berondongan tembakan menghantam sebuah helikopter yang mengangkut logistik pemilihan umum Libya, Jumat, menewaskan seorang petugas komisi pemilu, kata sejumlah pejabat.

"Sebuah helikopter yang mengangkut kertas suara dan terbang di atas daerah Hawari (sebelah selatan Benghazi) diserang tembakan senjata ringan," kata juru bicara angkatan darat Kolonel Ali al-Sheikhi. "Satu orang di dalam helikopter itu tewas."


Menurut perwira tersebut, helikopter itu melakukan pendaratan dengan aman di Bandara Internasional Benina, yang melayani penerbangan di kota Benghazi, Libya timur.

Seorang petugas di komisi pemilihan umum Libya mengatakan, seorang rekannya tewas dalam insiden itu.

Juga Jumat, menjelang pelaksanaan pemilihan umum, dua roket menghantam Pusat Medis Benghazi, namun tidak ada korban atau kerugian material, kata seorang pejabat di rumah sakit itu, Ala Ben al-Kazza.

Motif dari serangan tersebut masih belum jelas, namun penduduk Benghazi memperkirakan bahwa logistik pemilu disimpan di fasilitas medis itu.

Kekerasan itu terjadi menjelang pemungutan suara Sabtu untuk menetapkan sebuah majelis nasional, pemilu demokratis pertama setelah lebih dari empat dasawarsa kekuasaan Muamar Gaddafi, yang digulingkan dan tewas tahun lalu.

Libya timur adalah markas sejumlah kelompok yang mengancam menyabotase pemilu kecuali jika penguasa Libya saat ini meninjau alokasi jatah kursi dalm Kongres Umum Nasional.

Sistem saat ini mengalokasikan 100 kursi untuk wilayah barat, 60 kursi untuk wilayah timur dan 40 untuk selatan. Pendukung federalisme menuntut pembagian setara kursi antara wilayah-wilayah itu.

Lebih dari 2,7 juta orang Libya, atau sekitar 80 persen pemilih yang memenuhi syarat, telah mendaftarkan diri untuk memberikan suara dalam pemilu itu.

Penguasa Libya saat ini Dewan Transisi Nasional (NTC), yang mendeklarasikan "pembebasan" negara itu tiga hari setelah penangkapan dan pembunuhan Gaddafi pada 20 Oktober, meluncurkan sebuah peta jalan bagi Libya baru dengan perhitungan waktu mundur 20 bulan menuju pemilu.

Sebuah pemerintah transisi dalam waktu delapan bulan akan mengatur pelaksanaan pemilu bagi majelis beranggotakan 200 orang, atau "Kongres Umum Nasional". NTC akan mundur pada saat kongres itu mengadakan sidang pertama.

Puluhan partai politik dibentuk pada bulan-bulan menjelang pemilu. Pada 3 Juni, komisi itu memerintahkan 4.000 calon yang berharap mengikuti pemilu tidak melakukan kampanye sebelum tanggal diumumkan.

NTC memelopori pemberontakan untuk menggulingkan pemerintah Gaddafi tahun lalu.

Selama konflik, dewan itu mengatur permasalahan kawasan timur Libya yang dikuasai pemberontak dan melobi keras untuk pengakuan diplomatik dan perolehan dana untuk mempertahankan perjuangan berbulan-bulan dengan tujuan mendongkel kekuasaan Gaddafi.

Negara-negara besar yang dipelopori AS, Prancis dan Inggris membantu mengucilkan Gaddafi dan memutuskan pendanaan dan pemasokan senjata bagi pemerintahnya, sambil mendukung dewan pemberontak dengan tawaran-tawaran bantuan.

Libya era Gaddafi digempur pasukan internasional sesuai dengan mandat PBB yang disahkan pada 17 Maret 2011.

Sebanyak 21 kapal NATO berpatroli aktif di Laut Tengah sebagai bagian dari penegakan embargo senjata terhadap Libya pada saat itu.

Aliansi 28 negara itu sejak 31 Maret 2011 juga memimpin serangan-serangan udara terhadap pasukan darat rejim Gaddafi.

Resolusi 1973 DK PBB disahkan ketika kekerasan dikabarkan terus berlangsung di Libya dengan laporan-laporan mengenai serangan udara oleh pasukan Gaddafi, yang membuat marah Barat.

Gaddafi (68), pemimpin terlama di dunia Arab dan telah berkuasa selama empat dasawarsa dan bersikeras akan tetap berkuasa meski ia ditentang banyak pihak, diumumkan tewas oleh kelompok pemberontak Dewan Transisi Nasional (NTC) pada Kamis (20/10).

Keresahan internasional meningkat berkaitan dengan kondisi tidak jelas seputar kematian Gaddafi yang tampaknya dieksekusi, setelah kota asalnya Sirte dikuasai pasukan NTC pada 20 Oktober.

Sejumlah pihak, termasuk Ketua Komisi HAM PBB Navi Pillay, menyerukan penyelidikan untuk mengetahui kebenaran seputar kematian orang kuat Libya itu.(rr)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.