Juba (AFP/ANTARA) – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton tiba di ibu kota Sudan Selatan, Juba pada Jumat, pejabat tertinggi Amerika Serikat yang mengunjungi negara terbaru di dunia tersebut, yang memisahkan diri dari mantan musuh perang sipilnya, Sudan pada tahun lalu.
Clinton akan bertemu dengan Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir dan Menteri Luar Negeri, Nhial Deng Nhial dalam perjalanan selama tiga jam, di mana ia diharapkan dapat menyoroti keprihatinan Washington atas sengketa sengit antara Juba dan Sudan.
Sesampainya di Juba diplomat tertinggi AS itu menuju ke kursi kepresidenan untuk bertemu dengan Kiir, presiden Sudan Selatan.
Pemerintah Juba yang belum mencapai kesepakatan dengan negara tetangganya, Sudan, meninggalkan masalah yang tidak terselesaikan setelah mereka berpisah pada Juli 2011, termasuk masalah perbatasan dan wilayah yang diperebutkan di daerah kaya minyak itu.
Dewan Keamanan PBB memberi batasan kepada kedua negara itu, yang sebelumnya pada tahun ini nyaris kembali ke perang habis-habisan, hingga2 Agustus untuk mencapai kesepakatan atau menghadapi sanksi. Batas waktu tersebut jatuh pada Kamis.
"Kami mendorong kedua belah pihak, Sudan Selatan dan Sudan, untuk secara efektif menegosiasikan perbedaan antara mereka," kata seorang pejabat tinggi dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.
Seraya menunjukkan dukungan untuk Sudan Selatan, Clinton "akan mengungkapkan perhatian berkesinambungan kami tentang kurangnya gerakan dalam penyelesaian isu-isu utama di antara kedua negara tersebut," kata pejabat itu.
"Isu-isu tersebut adalah tentang minyak dan pembagian hasil, kewarganegaraan, perbatasan yang disengketakan," tambah pejabat itu. "Kedua negara mengalami dislokasi ekonomi."
Perjalanan 11 hari Clinton ke tujuh negara Afrika difokuskan pada strategi baru pemerintahan Obama untuk mempromosikan pembangunan Afrika dengan merangsang pertumbuhan ekonomi, sambil memajukan perdamaian dan keamanan serta penguatan demokrasi. (yg/ik)


