Berburu Harta Luthfi

Hong Kong Menyita Sisik Trenggiling Langka

Hong Kong (AFP/ANTARA) – Pejabat berwenang Hong Kong telah menyita 208 kilogram sisik trenggiling yang terancam punah, yang dikirim demi memenuhi permintaan pembuatan obat tradisional, terutama di China daratan.


Sisik trenggiling itu, yang bernilai 1,7 juta dolar Hong Kong (sekitar Rp 2,07 miliar), disita pada Selasa di kota pantai Sai Kung, saat pihak berwajib menangkap basah tujuh orang sedang memasukkan sisik itu ke speedboat, kata departemen Bea dan Cukai.


Para tersangka melarikan diri dengan speedboat menuju ke perairan China daratan setelah dikejar dengan kecepatan tinggi oleh polisi laut. Departemen bea cukai mengatakan kepada AFP pihaknya masih menyelidiki tempat tujuan penjualan sisik tersebut.


Mereka juga berhasil menyita 11 kilogram sarang burung, bahan utama untuk makanan lezat China yang mahal, serta 1.600 perangkat keras komputer, 7.350 ponsel dan kendaraan, dengan uang senilai 4,7 juta dolar Hong Kong (sekitar Rp 5,73 miliar).


Trenggiling, yang makan rayap dan semut, dilindungi berdasarkan Konvensi PBB tentang Perdagangan Internasional Spesies Langka, di mana perdagangan produk-produknya adalah ilegal.


Namun kelompok konservasi mengatakan penyelundupan hewan itu semakin merajalela dan mereka sering diburu dari alam liar, terutama di Indonesia dan Malaysia. Perburuan liar itu memperburuk ancaman kepunahan akibat deforestasi (penebangan hutan) yang cepat.


Trenggiling diangkut melalui Asia Tenggara, sebagian besar berakhir di China dan Vietnam, di mana daging trenggiling dan sisiknya, dihancurkan menjadi bubuk untuk tujuan pengobatan. (ia/pt)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.