Hortikultura Selandia Baru Bisa Masuk Tanjung Priok

  • Emas Jatuh Jelang Kesaksian Bernanke di Kongres

    Antara

    Chicago (ANTARA/Xinhua) - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange jatuh pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena investor tetap berhati-hati menjelang kesaksian Ketua Federal Reserve Ben Bernanke tentang prospek ekonomi AS di Kongres pada Rabu. Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Juni turun 6,5 dolar AS, atau 0,47 persen, menjadi menetap di 1.377,6 dolar AS per ounce. Bernanke pada Rabu akan memberikan keterangan tentang prospek ekonomi AS, sementara Komite Pasar

  • Ini Dia Tiga Bank Barteran Transaksi DBS-Danamon

    Plasadana

    PLASADANA.COM – Asas resiprokal dari otoritas moneter Singapura merupakan harga mati yang diberikan Bank Indonesia, sebelum akuisisi 40 persen saham Bank Danamon disetujui. Untuk siapa asas resiprokal itu?Seperti dilansir Reuters,  Bank Indonesia menetapkan syarat agar pemerintah Singapura memberikan perlakuan yang sama bagi bank Indonesia yang ekspansi ke negara tersebut (asas resiprokal). Asas resiprokal itu harus diberikan pada tiga bank pemerintah: PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara

  • Pengamat Ingin Chatib Basri Tiru Agus Marto

    Pengamat Ingin Chatib Basri Tiru Agus Marto

    Tempo
    Pengamat Ingin Chatib Basri Tiru Agus Marto

    TEMPO.CO, Jakarta-Pengamat ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Latif Adam meminta Menteri Keuangan Chatib Basri menjadikan Agus Martowardojo sebagai tolok ukur. "Cara-cara seperti Pak Agus harus dipegang oleh Menteri Keuangan yang baru, yaitu bisa bersih-bersih agenda politik," kata dia di Jakarta, Selasa, 22 Mei 2013.

TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia akan segera menjalin perjanjian mutual recognition agreement (MRA) atau perjanjian pengakuan timbal balik dengan Selandia Baru. "Selandia Baru sedang mengajukan MRA, tapi sebentar lagi akan disetujui. Tim kami sedang mengumpulkan data-data ke sana," kata Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Banun Harpini kepada Tempo, Selasa, 19 Juni 2012.

Menurut Banun, proses perjanjian ini sudah dalam tahap akhir. Jika sudah disetujui, maka produk hortikultura (buah dan sayur) dari negara itu diperbolehkan masuk melalui pintu masuk impor mana saja, termasuk Pelabuhan Tanjung Priok.

Pemerintah menutup Pelabuhan Tanjung Priok bagi produk impor hortikultura yang berlaku efektif mulai hari ini. Namun aturan ini dikecualikan bagi negara-negara yang memiliki perjanjian MRA dengan Indonesia. Saat ini baru tiga negara yang memiliki perjanjian MRA, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.

Perjanjian MRA, kata Banun, sudah diterapkan sejak 2009 lalu. Setiap dua tahun sekali, masa berlaku perjanjian habis dan harus diperbarui. Tidak hanya soal pintu masuk, perlakuan produk hortikultura impor dari negara-negara MRA ini juga berbeda.

"Kami melakukan pemantauan setahun dua kali. Dalam pemantauan itu, kami mengambil sampel produk untuk diuji di laboratorium, sehingga ketika kontainer mereka masuk, tidak lagi harus diperiksa per kontainer," kata Banun.

Produk hortikultura dari negara-negara yang memiliki perjanjian MRA dinilai sudah aman, maka diperbolehkan masuk dari Pelabuhan Tanjung Priok. Pemeriksaan terhadap produknya pun tidak dilakukan terhadap setiap kontainer. Namun, Banun menegaskan, pengawasan terhadap penyakit dan organisme berbahaya dalam produk tetap dilakukan secara ketat.

Pemerintah mengatakan penutupan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pintu masuk disebabkan kapasitas yang terlalu padat. Menteri Pertanian Suswono menyebutkan, tiap hari setidaknya ada 1.500 kontainer masuk ke pelabuhan itu dan 10 persen di antaranya adalah produk impor hortikultura.

"Kami ingin ada kontrol dan pengawasan terhadap pemasukan produk-produk ini. Salah satunya pembatasan di Pelabuhan Tanjung Priok, karena sangat overload sehingga kontrol pemasukan kurang memadai," kata Suswono.

Suswono menyatakan produksi hortikultura dalam negeri sekitar 30 juta ton. Namun tren impor terus meningkat. Pada 2010, volume impor sebesar 1,2 juta ton dan naik menjadi 1,6 juta ton pada 2011. Sebagian besar produk hortikultura yang masuk ke Indonesia berasal dari Cina, India, Vietnam Thailand, Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru.

ROSALINA

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Artikel Bisnis Terpopuler

POLL

Yakinkah Anda, wanita-wanita yang terlibat dengan Ahmad Fathanah akan dikenakan sanksi hukum?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat