TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Golongan Karya Aburizal Bakrie, atau kerap disapa Ical, mengklaim posisinya sebagai calon presiden 2014 dari Partai Golongan Karya aman. "Kami sudah memutuskan hanya mengusung satu nama calon presiden," ujarnya seusai membuka Rapat Pimpinan Nasional IV di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin, 29 Oktober 2012.
Pernyataan itu menyusul kabar bekas Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla yang hendak maju sebagai calon presiden 2014 dan ada kemungkinan menjadi alternatif dari Partai Golkar. Ical mempersilakan jika Kalla ingin mencalonkan diri sebagai presiden. Namun bukan dari Partai Golkar, melainkan dari partai lain.
Ia menanggapi positif pernyataan Kalla kepada media yang menghormati keputusan Golkar dalam mengusung Aburizal sebagai calon presiden 2014. "Beliau punya hak untuk maju," kata dia.
Dari hasil survei belakangan ini yang menyasar tingkat keterpilihan calon presiden 2014, Ical memiliki tingkat elektabilitas yang lebih rendah dibandingkan dengan politikus senior Golkar, Jusuf Kalla, itu. Dalam survei yang dilakukan Lembaga Survei Nasional terhadap 1.230 responden, misalnya, sebanyak 9,4 persen mendukung Kalla. Sedangkan Aburizal hanya mendapat 7,1 persen. Survei dilaksanakan pada 4 hingga 20 September 2012.
Tingginya dukungan publik terhadap Kalla juga dapat dilihat dari tingkat akseptabilitas. Kalla memperoleh dukungan sebanyak 62 persen, sementara Aburizal 41,4 persen.
Lembaga lainnya, Political Weather Station, menyebutkan, popularitas Kalla lebih tinggi ketimbang Aburizal. Kalla berada di peringkat teratas dengan suara 95,88 persen. Aburizal menempati peringkat dua dengan 90,09 persen.
PWS melakukan survei terhadap 1.070 responden. Adapun pelaksanaannya dimulai pada 15 September hingga 15 Oktober 2012.
SATWIKA MOVEMENTI
Tokoh Nasionalis ini, Kakek dari Dian Sastro
Kisah Jenderal Pramono Edhi dan Makelar Senjata
Rahasia Kisah Asmara W.R. Soepratman
Lagu Indonesia Raya dan Kontroversinya



Yahoo! OMG