Jakarta (ANTARA) - Periode Januari hingga Juni 2012, industri tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki dan produk kulit hanya tumbuh 2,86 persen, jauh lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 9,45 persen.
"Penurunan pertumbuhan industri TPT, alas kaki serta produk kulit disebabkan ekspor produk Industri TPT mengalami penurunan 6,16 persen, sementara ekspor produk industri alas kaki dan produk kulit naik sebesar 5,9 persen," kata Menteri Perindustrian M.S Hidayat di Jakarta, Senin.
Pemerintah, menurut Hidayat, telah melakukan berbagai upaya dalam rangka mengantisipasi penurunan pertumbuhan industri TPT, alas kaki dan produk kulit melalui pemberian insentif fiskal.
"Pemerintah akan memberikan insentif fiskal dan melakukan peningkatan upaya pengendalian impor melalui kebijakan `non tariff barrier` seperti penerapan SNI wajib, pembatasan pelabuhan masuk untuk komoditi tertentu, kebijakan tata niaga impor, serta mengoptimalkan instrumen `anti dumping` dan `safeguard`," paparnya.
Kebijakan lainnya, lanjut Hidayat, dengan optimalisasi pemanfaatan pasar Amerika dan Jepang yang sedang mulai pulih terutama untuk barang-barang konsumen dan mencari pasar-pasar tujuan ekspor baru.
"Pemerintah akan mengoptimalkan pasar Amerika dan Jepang serta meminta produsen untuk mengembangkan pasarnya ke Timur Tengah dan Afrika," ujarnya.
Hidayat menyatakan pemerintah juga terus mendorong penurunan suku bunga kredit perbankan.
"Untuk Jawa Barat, program pengembangan dan peningkatan daya saing industri TPT diprioritaskan pada Sentra Industri Tekstil di Kabupaten Bandung, Khususnya Majalaya, dengan jumlah industri besar dan sedang sebanyak 960 unit dan IKM sebanyak 860 unit," tandasnya. (tp)


