Yogyakarta (ANTARA) - Industri keuangan mikro yang mengucurkan pinjaman modal untuk para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan salah satu cara untuk membantu meningkatkan kualitas jasa layanan sektor kesehatan.
"Microfinance dapat membantu meningkatkan edukasi kesehatan dan jasa layanan kesehatan," kata Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Herqutanto dalam seminar "Strategic Issues on the Needs of Innovation for Microfinance Industry" di acara International Microfinance Conference 2012 di Yogyakarta, Senin.
Menurut dia, microfinance yang disediakan oleh lembaga dalam industri keuangan mikro penting bagi sektor kesehatan karena hingga kini, masih tidak banyak warga yang menggunakan jasa layanan kesehatan baik dalam tingkat primer (seperti klinik dokter pribadi dan puskesmas) hingga ke tingkat sekunder dan tersier, misalnya rumah sakit baik swasta maupun pemerintah.
Ia memaparkan, kondisi terkini dari jasa layanan kesehatan di Indonesia pada saat ini menawarkan jasa layanan yang sangat beragam begitu pula dalam tingkat harga yang ditawarkan. "Kesehatan masih disetir oleh permintaan pasar," katanya.
Herqutanto juga menuturkan, beragam intervensi yang dapat dilakukan oleh kebutuhan microfinance antara lain menyangkut promosi dan pendidikan kesehatan, pinjaman mikro kesehatan, dan rencana asuransi dan persiapan kesehatan.
Sementara itu, pembicara lainnya Koordinator Asia Pacific Regional Microcredit Summit DSK Rao mengatakan, agar jasa keuangan dapat sukses, maka mereka juga harus turut membantu mengatasi permasalahan kesehatan bagi kaum miskin.
International Microfinance Conference 2012 yang bertajuk "Towards Sustainability and Financial Inclusion" (Menuju Inklusi Finansial dan Keberlanjutan) diselenggarakan untuk menggali lebih jauh kebijakan dan praktek terbaru dalam hal inovasi keuangan mikro dari berbagai negara.
Manfaat yang diharapkan dari penyelenggaraan konferensi tersebut adalah eksplorasi pengetahuan dan pengalaman terkait dengan kebijakan dan implementasi pengembangan skema pembiayaan bagi UMKM.
Selain itu, manfaat lainnya adalah memberikan informasi kepada dunia internasional tentang keberhasilan Indonesia dalam mengembangkan skema pembiayaan mikro bagi UMKM melalui Program bernama Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Sebagaimana diketahui, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan peluncuran KUR pada 5 November 2007. Sampai Oktober 2012, realisasi KUR telah mencapai Rp87,97 triliun kepada 7,16 juta debitur. (tp)

