Laporan Wartawan Tribun Lampung, Anastasia
TRIBUNNEWS.COM, LAMPUNG - Sesuai prediksi, angka inflasi Bandar Lampung pada Juli lalu tidak mencapai 1 persen alias hanya 0,52 persen. Bahkan, angka itu lebih rendah dari inflasi Juni yang sebesar 0,79 persen.
Hal itu membuktikan perkiraan bahwa angka inflasi Juli masih di bawah 1 persen. Melonjaknya harga bahan pokok pada awal Ramadan lalu tidak membuat angka inflasi Bandar Lampung pada bulan Juli membumbung.
Demikian dikemukakan Kabid Statistik Distribusi BPS Lampung, Dody Gunawan Yusuf saat menyampaikan rilis bulanan, Rabu (1/8/2012).
Dia menerangkan, jika menilik indeks harga konsumen (IHK) dari tujuh kelompok pengeluaran, persentase kenaikan tertinggi malah bukan terjadi pada kelompok bahan makanan. Melainkan, pada kelompok pakaian sandang dengan jenis barang seragam sekolah.
Perubahan IHK sandang mencapai 1,76 persen, di mana pada Juni sebesar 140,90 persen dan Juli 143,93 persen. Sedangkan IHK bahan makanan yaitu 0,64 persen, di mana Juni 158,24 persen dan Juli 159,26 persen.
"Namun, jika melihat andil sumbangan inflasi, kelompok bahan makanan masih memegang posisi teratas. Komoditas paling dominan adalah telur ayam ras, lalu disusul daging ayam ras dan gula pasir," terangnya.
Tujuh kelompok pengeluaran pembentuk inflasi antara lain, bahan makanan (0,17 persen); makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,04 persen); perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (0,09 persen); sandang (0,10 persen); kesehatan (0,05 persen); pendidikan, rekreasi, dan olahraga (0,03 persen); transportasi, komunikasi dan jasa keuangan (0,01 persen).
Diungkapkan Dody, terkendalinya inflasi tak lain karena lancarnya suplai komoditas kebutuhan pokok masyarakat. "Sehingga tak terjadi spekulasi harga dan barang atau kondisi sistemik seperti tahun lalu," lanjutnya.
Terkendalinya angka inflasi sebelumnya pernah disampaikan Peneliti Ekonomi Madya dan Humas Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Provinsi Lampung Nunu Hendrawanto. Dia menyebutkan, kala itu timnya menghitung inflasi pada Juli masih di bawah 1 persen.
Lonjakan harga bahan pangan memang mewarnai kondisi awal Ramadan. Tapi, setelah hampir dua pekan Ramadan berjalan, harga pangan mulai stabil dan beberapa jenis mulai turun harga.
Dody menambahkan, terkendalinya pasar juga tak terlepas dari langkah strategis pemerintah pusat dan daerah.
"Termasuk juga peran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang terdiri dari Bank Indonesia sebagai leader dan instansi birokrat lain sebagai anggota," sebutnya.
Bila dilihat perbandingan inflasi tahunan secara umum, menurut penghitungan tahun kalender inflasi pada tahun 2012 (Januari-Juli) sebesar 2,20 persen, menunjukkan angka yang lebih tinggi dari tahun 2011 dan 2009. Tapi, lebih rendah dibanding tahun 2010 (pada periode yang sama).
Sementara inflasi year on year sebesar 4,34 persen merupakan angka yang paling rendah selama tiga tahun terakhir (untuk periode yang sama), tapi lebih tinggi dibanding tahun 2009.
Baca Juga:
- BRI Makassar Siapkan Dana Rp 340 Miliar
- Liana Bratasida: Indonesia Harus Lakukan Terbobosan Baru
- Enam Bulan Metland Untung Rp 80,7 miliar
- Orang Jawa Timur Paling Banyak Melancong


