INILAH.COM, Jakarta - Pekan ini, ada dua peristiwa bisnis penting yang menghebohkan jagat olahraga tanah air. Kedua peristiwa tersebut sama-sama terkait investasi pengusaha Indonesia di klub luar negeri.
Pertama, pengusaha Erick Thohir membeli mayoritas saham klub Major League Soccer (MLS), D.C. United. Dengan begitu, Erick menjadi investor utama klub yang berasal dari ibukota Amerika Serikat, Washington DC itu.
Seperti dikabarkan Washington Post, Erick telah diperkenalkan sebagai investor baru United dalam jumpa pers pada Selasa (10/7/2012), yang dihadiri oleh investor saat ini, Will Chang, dan Presiden United, Kevin Payne.
Kedua, maskapai penerbangan Garuda Indonesia menjadi sponsor resmi Liverpool FC. Perusahaan BUMN tersebut mengikat kontrak dengan klub Liga Primer Inggris itu selama tiga tahun.
Seperti diungkapkan Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, alasan menjadi sponsor Liverpool tersebut adalah sebagai upaya promosi Garuda di kancah global. Garuda melihat begitu banyaknya fans sepakbola di dunia, khususnya terhadap Liverpool.
Dengan perjanjian itu, kata Emirsyah dalam situs Liverpool, Garuda diberikan hak untuk menjadi 'Official Partner of Liverpool Football Club' dan 'Official Global Airline Partner of Liverpool Football Club'.
Tak lama setelah Garuda Indonesia menjadi sponsor utama Liverpool, kontingen Olimpiade Indonesia justru batal terbang ke London, Inggris, menggunakan maskapai kebanggaan nasional tersebut.
Jauh sebelumnya, pengusaha Indonesia, Nirwan Bakrie juga sudah mengakuisisi CS Vise di Belgia dan klub Australia, Brisbane Roar.
Tidak hanya itu, di dalam negeri juga dunia sepak bola tengah heboh dengan kedatangan bintang-bintang asing secara bertubi-tubi. Setelah pekan sebelumnya, gelandang Barcelona Cesc Fabregas dan gelandang Real Madrid Xabi Alonso, dua pemain Madrid lainnya, Pepe dan Alvaro Arbeloa berkunjung dan pamer keahlian mereka di Stadio Utama Gelora Bung Karno, Jumat (13/7/2012).
Mendatangkan pemain asing dan menanamkan modal di lapangan sepak bola luar negeri seakan kian lumrah bagi para pelaku bisnis. Tapi tengok lebih dalam, suasana semarak itu terbalik dengan keriuhan akibat konflik dan kerusuhan dalam arti sesungguhnya di lapangan atau di organisasi PSSI sendiri.
Ketua Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) Syauqi Suratno memaklumi fenomena larinya investasi pengusaha dan perusahaan domestik ke luar negeri. Pasalnya, para pemilik modal tak yakin bisa meraup untung di tengah suasana kisruh di dunia sepak bola tanah air.
"Tidak gampang seorang pebisnis memiliki ketertarikan untuk menanamkan uangnya di bidang sepak bola. Ada yang tertarik saja, sudah perlu kita perlu syukuri dulu," ujar Syauqi saat berbincang dengan INILAH.COM, Minggu (15/7/2012).
Menurutnya, keputusan seorang pengusaha untuk menanamkan modalnya sangat berhubungan kondisi. Jika tidak kondusif, termasuk di lapangan sepak bola, pengusaha juga ogah berinvestasi.
"Memang kita sendiri yang perlu berbenah. Kalau situasinya sudah normal, baru kita bisa tarik mereka untuk menanamkan dananya di sini," sesalnya.
Namun, Sebetulnya, keputusan Erick Thohir, yang sebelumnya juga membeli saham mayoritas klub basket NBA, 76ers, untuk membeli saham mayoritas DC United mendapat kritikan pedas dari praktisi pembinaan pesepakbola usia muda asal Amerika Serikat, Tom Byer. Justru menurutnya, lebih baik Erick menginvestasikan uangnya di pembinaan usia muda di Indonesia sendiri.
"Hanya dengan 1/10 dari investasi yang dikeluarkan pada 76ers dan DC United, Indonesia bisa lolos ke Piala Dunia U-17 beberapa tahun mendatang," tulis Byer di akun jejaring sosial Twitter miliknya.
"Apabila orang-orang berpunya macam (Pengusaha Malaysia dan pemilik klub Inggris, Queens Park Rangers Tony) Fernandez dan Thohir berinvestasi untuk pembinaan usia muda di negara mereka masing-masing, negara-negara mereka bisa jadi akan lolos ke ajang Turnamen U-17 FIFA," sambung pria yang pernah menjadi mentor Shinji Kagawa ini.
Namun demikian, Byer memahami alasan dua miliuner ini enggan berinvestasi di pembinaan usia muda. Menurutnya, pembinaan usia muda jauh dari kesan menarik dan jauh dari ekspos media. Selain itu, hasil dari pembinaan usia muda tidak bisa dinikmati secara instan.
Syauqi juga sepakat dengan yang dikatakan Byer. Namun, menurutnya keputusan para pengusaha tersebut sebaiknya diambil sisi positifnya, sama halnya dengan maraknya kedatangan para pemain asing baru-baru ini.
"Sepak bola adalah aktivitas global, sehingga kebutuhan menjadi global pun tidak bisa kita tolak. Hanya saja kita harus cerdas memilih mana event yang hanya sekedar hiburan, dan mana yang jadi ajang pembinaan," tega Syauqi.
Dalam mendatangkan para pemain asing, kata Syauqi, seharusnya perusahaan sponsor mau membuka diri bekerja sama dengan pemilik otoritas sepak bola untuk menemukan format yang memberikan imbas kepada pembinaan pemain muda.
"Jadi pemain asing jangan hanya sekedar datang. harus ada sharing vision dengan pemain dan pelatih muda Indonesia, sehingga kedatangan mereka bisa jadi inspirasi," tegasnya lagi.
Menurut Syauqi, kedatangan para pemain asing itu harus lebih berarti dari sekedar dari gelaran pertandingan eksibisi belaka.
"Kalau sekarang (kedatangan pemain asing) sangat commercial oriented. Mereka memang sempat memberi inspirasi kepada orang-orang di sini, tapi putus begitu saja ketika pertandingan itu selesai," katanya.
Saat ditanya mengenai mengapa maraknya kedatangan pemain tidak diikuti oleh meningkatnya profesionalisme para pelaku sepak bola di Indonesia sendiri, Syauqi menegaskan lagi bahwa itu memang hanya dagangan belaka.
"Mereka nggak mikir konflik (PSSI), Soal profesionalisme atau apapun. Yang penting adalah market share," tandasnya.
Namun tak semua kegiatan pengusaha ataupun perusahaan Indonesia dalam olahraga selalu berorientasi pada pasar. Salah satu perusahaan BUMN berhasil membantu pebalap Indonesia, Rio Haryanto, mengantongi izin mengendarai jet darat Formula 1.
Sementara CS Vise juga menelurkan beberapa pemain berbakat diantaranya seperti Syamsir Alam dan Yericho Christiantoko, yang sempat menembus skuad muda Timnas Indonesia.[yob]


