TEMPO.CO, Jakarta - Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, tak lengkap rasanya jika berbuka puasa tanpa menikmati jejongkong.
Kuliner warisan warga Tionghoa yang satu ini menjadi primadona bagi umat Islam di Bandar Lampung saat Ramadan tiba. »Energi bisa langsung pulih dengan semangkuk bubur jejongkong,” kata Audatul Fitriah, 35 tahun, salah seorang warga Telukbetung Selatan, Bandar Lampung, Sabtu, 21 Juli 2012.
Audatul yang memilih memulai puasa pada hari Jumat, 20 Juli, itu rela berburu jejongkong buatan Mei Hwa, warga kampung Bugis, Pesawahan, Telukbetung Barat, Bandar Lampung, sejak pukul 11.00 WIB. Dia tidak ingin kehabisan makanan yang terbuat dari tepung beras dan ketan itu. »Sebenarnya ada banyak warga yang membuat makanan serupa, tapi buatan Cik Mei yang paling pas di lidah kami,” katanya.
Mei Hwa, 60 tahun, memang sudah bertahun-tahun membuat jejongkong. Jika Ramadan tiba, dia akan meningkatkan hingga sepuluh kali lipat produksinya dibanding hari biasa. »Belum lagi pesanan untuk acara buka puasa,” kata Mei Hwa.
Jejongkong bikinan Mei Hwa terkenal memiliki rasa gurih, manis, dan kenyal di mulut. Perpaduan tepung beras, ketan, santan, dan gula aren terasa berbeda dengan makanan serupa di Bandar Lampung. »Rahasianya, semua dibuat dari bahan alami. Pewarna hijau dari daun pandan dan suji. Gula aren dibeli langsung dari pengrajin di Pesawaran, yang terjamin kemurniannya,” katanya.
Awalnya, jejongkong merupakan resep keluarga besar Mei Hwa yang dibawa dari negeri Tiongkok. Bubur itu biasanya khusus dihidangkan bagi anggota keluarga yang baru sembuh dari penyakit. »Stamina akan cepat pulih jika makan jejongkong. Itu karena makanan ini banyak mengandung kalori,” kata Cik Niget, adik Mei Hwa yang membantu pemasaran.
Selain bulan Ramadan, Mei Hwa mengaku penjualannya biasa saja. Bahkan, menurut dia, dalam seminggu ia hanya membuat 400 bungkus ukuran kecil. Di bulan Ramadan, dirinya mampu menjual 2.000 bungkus saban hari. »Berkah Ramadan. Semua rezeki dibagi ke semua umat,” kata pemeluk agama Buddha itu.
Harga satu bungkus jejongkong bikinan Mei Hwa dijual Rp 6.000. Harga itu jauh di atas harga pasaran makanan serupa yang hanya Rp 4.000 per bungkus. »Kami menawarkan harga lebih tinggi karena kualitas dan cara membuat memang berbeda dengan kebanyakan orang. Butuh empat jam untuk membuat makanan ini,” katanya.
NUROCHMAN ARRAZIE
Berita terpopuler lainnya:
Karyawan ''Nakal'' Ini Sengaja Sebarkan Hepatitis C
Hartati Murdaya Terancam Dipecat dari Demokrat
PSK Ini Ladeni 12 Orang Sehari
Pemutaran Film Batman Telan Nyawa 14 Penonton
Berapa Kerugian Hambalang? Ini Taksiran KPK
Film ''Mursala'' Dilarang Tayang.
Nuri Maulida Nikah Siri dengan Ustadz Guntur Bumi?
