Liputan6.com, Semarang: Robohnya jembatan penyeberangan di Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, membuat aktivitas warga setempat terganggu. Kini, warga Dusun Kedung Glatik, Desa Candirejo, terpaksa menyeberang sungai Kedung Glatik untuk melakukan aktivitas keluar kampung, seperti menjual hasil panen.
Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun terpaksa menantang bahaya menyeberangi sungai selebar 50 meter itu untuk pergi ke sekolah di SD Candirejo 2 yang berada di seberang sungai. Saat hendak menyeberangi sungai, mereka terlebih dulu harus menyisir kawasan sungai yang paling dangkal dengan kedalaman antara 30 sentimeter hingga satu setengah meter.
Berjalan melawan arus sungai bukan perkara mudah. Harus perlahan dan ekstra hati-hati. Situasi akan lebih sulit jika hujan tiba. Bahkan, jika banjir melanda, desa mereka menjadi terisolasi. Aktivitas menyeberangi sungai sudah dilakukan warga sejak puluhan tahun lalu karena jembatan penghubung roboh akibat terjangan arus sungai. Dulu, jembatan itu menjadi jalur penghubung menuju Demak.
Hingga kini belum ada upaya pembangunan jembatan penyeberangan. Warga berharap Pemerintah Kabupaten Semarang segera mengganti jembatan yang roboh agar warga dapat leluasa menjual hasil panen dan anak-anak tidak perlu bersusah payah lagi menuju sekolah.(ADO)



Belum ada komentar