Tokyo (AFP/ANTARA) - Penjaga pantai Jepang mengatakan bahwa tiga kapal patroli China telah mendekati gugus kepulauan dari wilayah yang sedang disengketakan pada Rabu, dalam sebuah langkah yang bisa mengobarkan ketegangan kedua pihak.
Kapal-kapal tersebut memasuki perairan Jepang di sekitar pulau-pulau di Laut China Timur yang dikenal bernama Senkaku di Jepang dan bernama Diaoyu di China, ungkap penjaga pantai.
Tiga kapal China tersebut diidentifikasi sebagai Yuzheng 35001, Yuzheng 204, and Yuzheng 202, kata mereka, seraya menambahkan bahwa "kami menuntut agar kapal-kapal itu meninggalkan wilayah perairan negara kami."
"Seruan yang sama juga dibuat oleh kementerian luar negeri, melalui cara diplomasi," tambah penjaga pantai tersebut.
Insiden itu terjadi di tengah hubungan yang semakin merenggang atas perebutan pulau-pulau tersebut, yang terletak di perairan yang kaya akan ikan tangkapan dan mungkin banyak mengandung beberapa sumber daya berharga, di mana sebelumnya Tokyo mengatakan bahwa mereka mungkin akan membeli gugus kepulauan tersebut dari pemilik pribadi asal Jepang.
Pemerintah metropolitan Tokyo mengatakan bahwa pihaknya telah mengumpulkan lebih dari 1,3 miliar yen (sekitar Rp153,9 miliar) untuk membeli pulau-pulau tersebut dengan menggunakan dana yang dikumpulkan dari sumbangan di seluruh negeri.
Beijing telah menyerang balik dengan menyatakan bahwa Jepang tidak memiliki hak untuk membeli pulau-pulau tersebut.
Menteri luar negeri Jepang dan China diperkirakan akan bertemu pada Rabu di sela-sela acara Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) di Phnom Penh.
Perairan di sekitar pulau-pulau tersebut kerap menjadi tempat dari perseteruan wilayah sebelumnya, termasuk penangkapan nelayan China pada akhir 2010, ketika mereka menabrakan kapalnya ke arah dua kapal patroli Jepang.
Perkembangan terbaru dalam kelanjutan perseteruan tersebut, sebuah laporan terpisah di surat kabar terlaris Jepang, Yomiuri Shimbun, melibatkan anggota senior Tentara Pembebasan Rakyat China dalam serangan cyber di parlemen Jepang pada tahun lalu.
Alamat email yang terkait pada pria yang tidak disebutkan namanya itu diduga digunakan sebagai tujuan untuk pencurian data, dari serangan yang laporan sebelumnya mengatakan bahwa diluncurkan dari sebuah server yang berbasis di China. (jk/ik)

