Tokyo (AFP/ANTARA) - Tokyo pada Senin menolak protes China atas pengibaran bendera Jepang di sebuah pulau yang disengketakan, tetapi menyerukan kemajuan yang "saling menguntungkan" dalam hubungan dengan Beijing.
Kepala Sekretaris Kabinet Osamu Fujimura mengatakan bahwa Beijing dan Taipei sama-sama merasa keberatan setelah 10 nasionalis Jepang mendarat di negara kepulauan di Laut China Timur pada Minggu.
"Kami menjelaskan posisi dasar bangsa kami dan mengatakan kepada mereka bahwa kami tidak dapat menerima klaim mereka," kata juru bicara utama pemerintah dalam konferensi pers di Tokyo.
"Tidak ada keraguan bahwa pulau itu adalah wilayah kedaulatan historis kami dan di bawah hukum internasional, dan bangsa kita secara efektif mengontrol pulau-pulau itu," tambahnya.
Fujimura mengatakan pemerintah Jepang yang menangani kasus ini "sesuai dengan hukum nasional" sebagai nasionalis melangggar peraturan pelarangan mendarat di pulau-pulau, yang dikenal sebagai Senkaku di Jepang dan Diaoyu di China.
Jepang pada Jumat mendeportasi pro-Beijing aktivis yang mendarat di pulau-pulau, yang bersikeras 14 orang itu seharusnya dihukum karena memasuki Jepang secara ilegal.
Tapi Fujimura bersikeras bahwa baik Tokyo maupun Beijing memiliki kepentingan dalam melihat keseluruhan hubungan yang dipengaruhi oleh sengketa.
"Hubungan Jepang-Cina adalah salah satu hubungan bilateral yang paling penting bagi Jepang," katanya.
"Peran konstruktif China diperlukan untuk stabilitas dan kemakmuran di kawasan Asia-Pasifik," katanya. "Kami ingin terus melanjutkan kemajuan hubungan yang saling menguntungkan antara Jepang dan China."
Fujimura juga meminta pemerintah China untuk menjamin keselamatan warga Jepang di China setelah protes anti-Jepang pecah di luar sana menargetkan bisnis Jepang, restoran, dan mobil.
Kementerian Luar Negeri Jepang secara terpisah mengeluarkan peringatan berkunjung, mengatakan warga Jepang untuk waspada selama tinggal di negara tersebut. (yg/mp)

