Kupang (ANTARA) - Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Nusa Tenggara Timur Abraham Paul Liyanto mengatakan para pengusaha belum bereaksi terhadap penurunan suku bunga bank saat ini, bukan karena apatis, tetapi lebih pada tidak ingin gegabah.
"Kondisi ini tidak berarti pengusaha kita tidak ingin memanfaatkan peluang tersebut, tetapi masih melakukan perhitungan yang matang sambil terus mengikuti perkembangan ini," katanya di Kupang, Sabtu.
Anggota DPD RI dari daerah pemilihan NTT itu mengatakan hal tersebut tekait kecenderungan bunga bank turun, namun para pengusaha di daerah maupun nasional jarang memanfaatkannya.
Menurut dia, penurunan suku bungan bank dengan kisaran 2-3 persen per bulan dan 24-30 persen per tahun itu masih tergolong tinggi untuk ukuran pengusaha pemula yang ingin meminjam uang dalam jumlah yang besar, karena berkonsekuensi terhadap pengembalian.
Apabila tidak dilakukan perhitungan yang matang sebelum melakukan pinjaman ke bank, maka dikhawatirkan akan terbentur dengan kredit macet yang pasti mengganggu usahanya, sehingga perlu kehati-hatian," katanya.
Selain itu, katanya, masih enggannya pengusaha merespon kondisi suku bunga perbankan itu, bisa jadi karena saat ini masih sibuk dengan kegiatan pelelangan terutama di daerah yang tengah memasuki tahap informasi publik dan pengumuman pelaksanaan kegiatan fisik.
Artinya apabila sudah ada pelaksanaan kegiatan fisik di lapangan, maka pengusaha yang terkategori menengah ke bawah, tentu membutuhkan sokongan dana untuk memperlancar proses kemajuan fisik di lapangan.
Pada saat itu, katanya, bank akan menjadi salah satu sarana yang dimanfaatkan pengusaha untuk memenuhi kebutuhannya.
Pemilik saham pada PT Bank Perkreditan Rakyat Cristy Jaya Kupang itu mengatakan, sekalipun ada anggapan bahwa pengusaha belum memanfaatkan penurunan suku bank saat ini, namun bila dilihat dari progress tingkat partisipasi meminjam di bank khusus yang ada mengalami peningkatan.
"Hingga akhir Juni 2012, animo masyarakat termasuk pengusaha untuk melakukan kredit untuk usaha mencapai 50 persen, kredit untuk investasi mencapai 35 persen dan kredit konsumtif mencapai 25 persen di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Cristy Jaya Kupang," katanya.
Ia mengatakan, membanjirnya masyarakat umum dan nasabah ke 20 bank umum dan sembilan bank perkreditan rakyat ini selain karena suku bunga pinjaman menurun juga karena saat ini di NTT sedang musim sekolah dan kuliah, sehigga banyak orang membutuhkan uang.
Lebih dari itu, animo masyarakat untuk meminjam uang ke Bank karena lembaga penjamin simpanan meyakinkan, dana kucuran ke pihak ketiga tersedia dalam jumlah yang cukup.(rr)

