Kenaikan BBM

Kalah di Pemilukada: PKS Bukan Tidak Solid, Hanya Kurang Persiapan

INILAH.COM, Jakarta - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Lutfi Hassan Ishaaq membantah jika kekalahan pasangan Cagub Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini dalam Pemilukada DKI Jakarta, membuktikan jika PKS tidak solid.

Menurut Lutfi, kekalahan pasangan Cagub yang diusung oleh PKS, sepenuhnya menjadi tanggung jawab dari Dewan Pimpinan Daerah PKS Provinsi DKI Jakarta. "Itu pekerjaan Provinsi bukan pekerjaan DPP ya, tapi itu adalah realita dari masyarakat Jakarta," ucap Luthfi di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa, (17/7/2012).

Namun ia membantah jika PKS tidak solid di Pemilukada DKI Jakarta, meski pasangan Cagub Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini yang hanya mendapat 11% suara, dan berbeda jauh dengan Pemilukada DKI 2007, dimana Adang Darajatun berhasil mendapat sekitar 40% dukungan.

"Oh gak ya, ini soal kompetisi yang jumlah kompetitornya berbeda antara Pilkada 2007 dengan Pilkada 2012. Termasuk sebaran suara yang dulunya hanya 2 kandidat dan sekarang 6 kandidat," katanya.

Hal senada dilontarkan oleh Tifatul Sembiring, menurutnya kekalahan Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini bukan persoalan dari pecahnya suara kader di Jakarta. "Jadi memang ada beberapa setelah kita analisa, saya tidak yakin ini pelarian suara PKS. Karena, beda antara Pemilu Legislatif dengan Pemilihan Kepala Daerah. Dalam Pilkada itu faktor figur sangat kuat," kata Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

Tifatuk melanjutkan, perolehan hasil quick count yang turun drastis dengan Adang Darajatun pada tahun 2007 silam itu beda siklusnya. "Pak Adang itu kan persiapannya setahun lebih, bahkan ketika beliau masih menjabat Wakapolri kita sudah melakukan pendekatan. Karena sebentar lagi beliau akan pensiun ya kita gak minta lagi. Tapi, kalau ini (HNW) waktu cuma sebulan saja, sangat singkat walaupun Pak Hidayat punya karakter yang kuat juga sebetulnya cuma kurang waktu untuk mensosialisasikan lebih luas lagi," tutur Tifatul.

Dikatakan oleh Tifatul, awalnya PKS tidak ingin mengambil nomor 1 di DKI tetapi mengambil nomor 2 yakni Triwicaksana atau Bang Sani. Seperti yang diketahui, bahwa Sani sudah dipersiapkan lama sekitar setahun. "Tapi ketika teman yang diajak koalisi berbalik arah sehingga kita harus masuk menjadi nomor 1. Pak Sani tidak siap untuk jadi calon nomor 1 sehingga kita ganti dengan Pak Hidayat. Jadi faktor sosialisasi," tandasnya.[bay]

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Jajak Pendapat Yahoo!

Setujukah Anda jika Pekan Raya Jakarta kembali diselenggarakan di Monas?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat