Liputan6.com, Kinshasa: Situasi tegang terasa di Kinshasa, ibu kota Kongo, setelah dua orang tewas dalam masa kampanye jelang pemilihan presiden. Pendukung Presiden Joseph Kabila dan kelompok oposisi utama, Etienne Tshisekedi, saling melempar batu sehingga polisi menyempotkan gas air mata.
Dalam putaran final kampanye yang dilakukan Sabtu lalu, kekerasan meletup lagi antar dua kubu. Akibatnya polisi melarang dua kubu ini berkampanye setelah kerusuhan pecah, menjelang pemilu hari Senin besok.
"Karena meningkatnya aksi kekerasan di Kinshasa, semua aksi demonstrasi publik dan pertemuan politik dilarang hari Sabtu ini," kata Gubernur Andre Kimbuta mengumumkan seperti dikutip BBC Indonesia, Ahad (27/11).
Namun, capres Tshisekedi dari Partai Persatuan untuk Demokrasi dan Kemajuan Sosial (UDPS) melawan larangan polisi tersebut dan menyerukan pada pendukungnya, "Kita tetap akan pergi ke (stadion) Stade des Martyrs. Disana saya akan pimpin kampanye." Puluhan ribu orang pun berkumpul di bandar udara utama Kinshasa untuk menyambut sang capres.
Namun, kendaraan yang membawanya kemudian dihalangi polisi, yang menggunakan sebuah kendaraan besar lapis baja dan menahannya selama delapan jam. Kepada wartawan Tshisekedi mengatakan, "Saya akan serukan agar warga Kinshasa datang kesini. Kami tidak akan membiarkan beberapa orang yang cedera menghalangi perjuangan kami sekarang."
Dalam pemilu Senin besok, 11 kandidat akan mencoba peruntungan meraih jabatan presiden sementara 18.000 calon lain berlomba untuk mengisi 500 kursi parlemen. Tshisekedi telah beberapa kali menyerang komisi pemilihan setempat dengan tuduhan mendukung Kabila, dan bahwa TPS "jadi-jadian" akan dipakai untuk mengatur hasil pemilihan.
Pemilu sebelumnya, tahun 2006, diwarnai bentrokan bersenjata di jalanan selama berminggu-minggu karena pendukung capres yang kalah tidak terima. Keberhasilan pemilihan umum kali ini akan sangat tergantung pada sikap para kandidat serta kemampuan mereka untuk menerima jika dinyatakan kalah.(ADO)



1 komentar