AS Kecam Rusia Terkait Penjualan Senjata di Suriah

Damaskus (AFP/ANTARA) - Amerika Serikat, Kamis (31/5), mengecam keras tindakan Moskow dalam mempersenjatai pemerintah Suriah serta memperingatkan tentang ancaman perang saudara, menyusul peningkatan tekanan diplomatik terhadap Presiden Bashar al-Assad.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton di Denmark mengatakan bahwa kebijakan Rusia yang melawan kebijakan Dewan Keamanan (DK) PBB atas Damaskus hanya akan meningkatkan potensi meletusnya perang saudara.

"Pihak Rusia mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak menginginkan perang saudara. Saya katakan kepada mereka bahwa kebijakan Pemerintah Rusia hanya akan memberikan kontribusi untuk terjadinya perang saudara," kata Hillary.

Sementara itu, Duta Besar AS untuk PBB Susan Rice menggambarkan pengiriman senjata dari pihak Rusia ke Suriah merupakan perbuatan tercela. Susan Rice juga menuduh Damaskus secara jelas berbohong dengan menyangkal terlibat dalam pembantaian lebih dari 108 orang, 49 di antaranya adalah anak-anak.

Komentar kedua pejabat AS itu muncul setelah Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Ban Ki-moon memperingatkan bahwa Suriah beresiko "bencana perang saudara", menyusul pembantaian di desa Houla pada pekan lalu.

Para gerilyawan Suriah mengancam akan meningkatkan kapasitas operasi mereka, kecuali jika pasukan rezim Assad mau melakukan gencatan senjata seperti saran PBB. Terkait akan hal itu, para aktivis Suriah melakukan aksi protes secara nasional.

Aksi unjuk rasa demi menghormati anak-anak yang terbunuh dalam pembantaian Houla itu, para aktivis menyerukan Revolusi Suriah 2011, sebagai tuntutan "kemenangan berkobar", di laman jejaring sosial Facebook.

Sementara itu, China dan sejumlah negara Arab bersama-sama mendesak semua pihak di Suriah untuk menerapkan secara penuh rencana PBB dan Liga Arab dalam melakukan gencatan senjata. Tuntutan untuk melakukan gencatan senjata itu mencakup penghentian pertempuran yang seharusnya dilakukan pada 12 April lalu.

"Gencatan senjata merupakan cara penting untuk menghindari bahaya campur tangan asing serta skenario anarkisme dan perang saudara," demikian pernyataan China dan sejumlah negara Arab setelah melakukan pembicaraan di Hammamet, kota di bagian timur Tunisia.

"Masyarakat internasional harus menggandakan upaya mereka dan mendesak pihak berwenang di Suriah untuk segera melakukan rencana Kofi Annan, yaitu gencatan senjata," kata Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi.(rr)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.