Wellington (AFP/ANTARA) â Sistem kebersihan dan sanitasi yang buruk akibat krisis air berkontribusi dalam meningkatnya angka kematian anak di Kiribati, seperti diungkapkan seorang utusan PBB pada Kamis.
Utusan khusus PBB yang bertugas mengawasi hak air bersih dan sanitasi, Catarina de Albuquerque, mengatakan bahwa perlu segera dilakukan tindakan untuk mengatasi krisis air bagi 100.000 warga di negara itu.
âSaya terkejut dengan angka kematian anak di Kiribati, yang tertinggi di Pasifik,â katanya dalam sebuah pernyataan yang dikeluarakan dalam perjalanan tiga hari untuk meninjau situasi di negara tersebut.
âJika negara ini serius ingin mengurangi angka kematian anak, sanitasi dan kebersihan merupakan dua masalah utama yang perlu dibahas sebagai hal yang mendesak,â katanya.
Angka kematian anak di Kiribati dua kali lipat lebih besar dari angka kematian rata-rata di wilayah Asia Timur/Pasifik, seperti ditunjukkan data Bank Dunia.
De Albuquerque mengatakan bahwa kurangnya fasilitas sanitasi yang layak berarti sebagian besar penduduk menggunakan laut dan semak-semak sebagai toilet, yang dikombinasikan dengan kurangnya kebiasaan mencuci tangan, menyebabkan penyebaran penyakit di antara anak-anak.
âSituasi saat ini mengenai pasokan air tidak boleh dibiarkan,â katanya, mengatakan kalau akses untuk air minum sehat dan sanitasi yang layak sebagai dasar hak-hak manusia.
Dia mengatakan bahwa pemerintah Kiribati perlu membuat sebuah departemen khusus untuk menangani masalah tersebut, dan melaksanakan sejumlah program untuk meningkatkan kapasitas air hujan dan menghasilkan air dari pabrik-pabrik desalinasi. (ai/pt)

