Keluarga Korban Memperingati Tragedi Bom Bali II

TEMPO.CO, Bali-Tragedi Bom Bali II kembali diperingati, Senin, 1 Oktober 2012. Keluarga korban dan puluhan siswa hadir dalam peringatan ketujuh yang berlangsung di Cafe Nyoman, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Bali. Di tempat inilah, tepat 7 tahun yang lalu, ledakan bom menewaskan 23 orang.

Beberapa perwakilan dari seluruh keluarga korban yang tergabung dalam Isana Dewata menyuarakan deklarasi damai. Mereka mengecam segala macam tindakan terorisme. ”Kami meminta para teroris yang hendak melakukan aksinya mengurungkan niat, mengingat dampak yang besar,” kata Ni Luh Erniati, Sudiana, dan Sudeni yang mewakili keluarga korban membacakan deklarasi damai.

Seruan juga dilayangkan kepada pemerintah, agar memperhatikan dan memberdayakan seluruh korban terorisme. Ketua Isana Dewata Ni Luh Erniati mengaku tidak mudah melewati tujuh tahun ini. Ada banyak cerita-cerita duka yang harus dilalui.  »Tapi inilah kami sekarang. Peristiwa itu sungguh tidak mungkin dilupakan, tapi sekarang semuanya sudah jauh lebih baik,” kata dia sambil tersenyum.

Ni Luh erniati mengatakan kedua anaknya menjadi pembakar semangatnya untuk tetap menjalani hidup saat ditinggal oleh Gede Badrawan, suami tercinta. »Anak saya sekarang sudah kuliah, sesekali masih sedih. Tapi sudah tidak trauma lagi,” kata dia.

Acara ini semakin mengingatkan betapa kejamnya aksi peledakan bom kala itu, terutama saat Cantika membaca puisi berjudul Ayahku. Cantika adalah anak dari salah satu korban yang meninggal. Dalam puisinya, Cantika menulis betapa rindunya dia kepada sang ayah yang telah pergi.

Dilakukan secara sederhana, juga dilakukan pelepasan tujuh ekor burung merpati oleh perwakilan keluarga korban dan undangan. Seluruh undangan juga membubuhkan tanda tangan tanda dukungan untuk menolak aksi terorisme.

Acara tersebut dihadiri oleh mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah, Nasir Abbas, dan Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Masdar Farid Mas’udi. Mereka didaulat untuk menjadi pembicara singkat untuk para siswa SMP dan SMA yang hadir.

Nasir mengaku bangga kepada keluarga korban peledakan yang bisa bertahan hingga saat ini. Menurutnya, perjuangan untuk melanjutkan hidup saat ditinggal oleh orang yang dicintai pasti tidak mudah.

Ia mengingatkan para remaja sebagai kalangan yang paling berpotensi untuk direkrut menjadi teroris. »Anak-anak remaja mampu bergerak cepat ke sana-ke sini, tidak ada beban anak istri. Saya sendiri direkrut saat masih berusia belasan tahun,” kata Nasir. Untuk itu, dia menekankan pentingnya peranan orang dekat, seperti keluarga, tetangga, juga teman-teman.

Masdar Farid menambahkan, usia remaja menjadi usia yang sangat rentan untuk dipengaruhi. Dalam usia ini, emosi seseorang sangat labil. Karena itu, pilihan teman saat bergaul akan sangat menentukan pola pikir dan mentalitas sang remaja. »Hal-hal negatif itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari lingkungan yang tidak mendukung. Misalnya, tidak ada keteladanan dari guru dan orang tua, sehingga tidak bisa menjadi inspirasi kebaikan bagi remaja,” ujarnya.

KETUT EFRATA

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Apakah Anda percaya pengerjaan proyek MRT yang sudah resmi dimulai akan berjalan tepat waktu sesuai rencana?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat