Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koperasi dan UKM memantau sampai saat ini krisis yang melanda di negara-negara anggota Uni Eropa (UE) tidak memacetkan ekspor UKM Indonesia ke negara-negara tersebut.
"Sampai saat ini, memang benar KUKM kita masih bisa transaksi di UE," kata Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Neddy Rafinaldi Halim, di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, kemampuan bertahan UKM Indonesia untuk bisa terus bergerak di pasar UE yang dilanda krisis di antaranya karena produk mereka yang memiliki karakter unik atau khas.
Rata-rata produk UKM yang diekspor dan diminati pasar Eropa adalah produk kerajinan tangan.
"Mereka bisa bertahan ekspor di tengah krisis salah satunya juga karena biaya produksi internal UKM lebih murah sehingga masih punya margin memadai di pasar luar negeri," katanya.
Selain itu, pihaknya menyatakan terus memberikan dukungan untuk promosi secara konsisten.
"Apalagi sekarang ada kebijakan cargo M3 untuk UKM yang terbukti efektif tekan biaya pengiriman barang," katanya.
Neddy menambahkan, pelaku UKM Indonesia juga terbukti mampu memelihara jaringan dengan para pembelinya secara baik dan profesional.
Dengan begitu, banyak "buyer" loyal yang tercipta dan tetap memesan produk UKM meskipun krisis sedang melanda.
"Buyer UKM kita umumnya punya hubungan tidak melulu bisnis, tapi juga hubungan personal emosional, sehingga mereka tetap saling menjaga kebersamaan melalui transaksi bisnis yang sudah lama dibina," kata Neddy Rafinaldi Halim.(rr)

