INILAH.COM, Jakarta - Kalangan industri mengisyaratkan keberatan bila kenaikan BBM bersubsidi bersamaan dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL).
Menteri Perindustrian MS Hidayat mengakui, kenaikan harga BBM bersubsidi akan menambah biaya produksi. "Saya juga sudah resah juga tuh kalau bersamaan dengan itu listrik juga dinaikkan," ungkapnya di Jakarta, Kamis (23/2/2012).
Ia berharap, biaya-biaya di luar biaya produksi seperti pungutan-pungutan liar bisa dihapuskan agar kenaikan tersebut tidak terlalu membebani pengusaha. "Makanya harus digunakan momentum ini untuk menghabisi biaya-biaya siluman supaya beban-beban tidak semua terpikul di dunia usaha," tuturnya.
Namun untuk jangka panjang, lanjutnya, kenaikan harga BBM bersubsidi ini tidak akan membebani pengusaha lagi sehubungan dengan adanya konversi BBM ke BBG. "Kan kalau BBM dinaikan diharapkan dalam jangka menengah dan panjang, mereka akan konversi kepada penggunaan gas. Tapi jangka panjang roadmap kita penggunaannya gas terbesar atau ke pertamax. Yang tidak menggunakan subsidi. Tujuannya nanti ke sana," paparnya. [cms]
Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia Senin kembali dibuka melemah mengikuti bursa global yang masih tertekan. IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka turun 22,50 poin atau 0,57 persen ke posisi 3.956,32. Indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 7,59 poin (1,24 persen) ke level 666,82. "IHSG hari ini dibuka melemah memfaktorkan koreksi signifikan yang terjadi di bursa global," kata analis Samuel Sekuritas Christin Salim di Jakarta, Senin. ...


1 komentar