Makassar (ANTARA) - Kepala Badan Narkotika Nasional Gories Mere mengatakan, angka prevalensi penyalahgunaan narkoba sebesar 2,2 persen atau sekitar 3,8-4,2 juta orang pada periode 2011, namun dengan fenomena gunung es angka itu bisa lebih besar.
"Angka ini di bawah proyeksi angka prevalensi periode yang sama yang tercatat 2,32 persen," kata Gories pada peresmian Balai Rehabilitasi BNN di Baddoka, Makassar, Selasa.
Menurut Gories, meski angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di bawah proyeksi periode yang sama, namun dengan fenomena gunung es, maka penyalahguna ataupun pecandu narkoba bisa lebih besar dari hasil penelitian kerja sama BNN dan Universitas Indonesia.
Sementara dari penyalahguna narkoba itu, lanjut dia, usianya mulai dari 10-59 tahun dengan rincian, usia 10-19 tahun 2,27 persen, 20-29 tahun 4,41 persen, 30-39 tahun 1,08 persen dan usia di atas 40 tahun sekitar 1,06 persen.
Dari kelompok pencaharian, Gories mengatakan, kelompok pekerja 70 persen dan pelajar 22 persen. Kelompok pekerja masih mendominasi, karena secara ekonomi memiliki finansial untuk membeli narkoba.
Alasan lainnya, kelompok pekerja menjadikan itu sebagai pendukung stamina kerja ataupun sejak awal sudah menjadi pengguna atau pecandu narkoba.
Menurut Ketua BNN, Indonesia masih rawan peredaran narkoba baik nasional maupun luar negeri. Karena itu semua pihak berupa menurunkan angka kasus Narkoba sejak 2007 - 2011.
Berdasarkan data BNN diketahui, kasus ganja mengalami penurunan rata-rata sebesar 9,9 persen, kasus heroin rata-rata turun 26,6 persen, kasus ekstasi turun rata-rata 23,5 persen, namun kasus shabu mengalami peningkatan rata-rata sebesar 21,2 persen.
Peresmian Balai Rehabilitasi BNN Baddoka di Makassar dilakukan Wakil Presiden Boediono. Kehadiran wapres juga terkait dengan peringatan Hari Anti Narkoba Internasional yang dipusatkan di Sulsel.(rr)



Yahoo! OMG