Kepolisian Lebanon Tembakkan Gas Air Mata pada Demonstran Anti-PM

Beirut (AFP/ANTARA) - Kepolisian Lebanon bentrok dengan pengunjuk rasa yang mencoba untuk menyerbu kantor perdana menteri di Beirut, di tengah seruan baginya untuk berhenti setelah seorang pejabat tinggi keamanan tewas oleh sebuah bom mobil yang diduga dilakukan Suriah.


Petugas melepaskan tembakan ke udara dan menggunakan gas air mata untuk mengusir para demonstran beberapa jam setelah pemakaman Jenderal Wissam al-Hassan pada Minggu.


Demonstrasi tersebut dijadikan kesempatan untuk memprotes campur tangan Suriah di Lebanon, namun suasana dengan cepat berubah menjadi kemarahan terhadap Perdana Menteri Najib Mikati, yang pemerintahnya didominasi oleh sejumlah pihak yang pro-Suriah.


Lebih dari 15 anggota pasukan keamanan cedera dalam bentrokan dengan para pengunjuk rasa di luar kantor perdana menteri, Serail, menurut sebuah pernyataan di situs Mikati.


Selama pidato pemakaman kepala intelijen kepolisian yang dibunuh itu, mantan perdana menteri Fuad Siniora yang marah mengimbau Mikati untuk mundur, seraya menambahkan pernyataannya dengan banyak orang lainnya sejak Hassan dan dua orang lain tewas dan 126 orang cedera pada Jumat.


Siniora yang merupakan seorang anggota terkemuka dari blok oposisi mantan perdana menteri Saad Hariri, mengatakan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas kematian Hassan dan sopirnya.


Setelah Siniora berbicara, seorang pria menaiki podium dan berteriak: “Pidato cukup, mari kita serang Serail.”


Seorang polisi mengatakan kepada AFP bahwa sekitar 200 “pemuda menuju gedung di pusat kota, namun pasukan keamanan menghalangi mereka dengan tembakan ke udara dan menggunakan gas air mata.”


Hanya beberapa jam setelah pemakaman di pusat kota Beirut, tembakan berat terdengar di distrik Sunni, Beirut bagian barat.


Meski banyak seruan bagi perdana menteri itu untuk berhenti, Mikati mengatakan bahwa dia akan tetap tidak akan mundur, atas permintaan Presiden Michel Sleiman, untuk menghindari “kekosongan politik” di Lebanon yang penuh dengan gejolak.


Pihak oposisi secara luas menyalahkan Presiden Suriah, Bashar al-Assad atas serangan pada Jumat di distrik yang sebagian besar dihuni oleh umat Kristen, Ashrafieh. (kn/ik)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.