Penghargaan buat SBY

KLIMIS Tuntut Tanggung Jawab DPT ke Foke

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Koalisi Independen Masyarakat Miskin Se-Jakarta (KLIMIS) menyebut Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo hanya berani mengomentari “Kumis” ketimbang bertanggung jawab terhadap kisruh daftar pemilih tetap (DPT).
 
“Dibandingkan kandidat lainnya, Faisal Basri bebas mengkritisi Foke tanpa perhitungan politik apa pun karena dia independen, tidak terafiliasi dengan partai atau kelompok mana pun. Dia murni menyampaikan pertanyaan warga tentang DPT tersebut. Sementara kandidat lain tidak berani meminta pertanggungjawaban Foke karena perhitungan politik bila kalah di putaran pertama,” jelas Koordinator KLIMIS, Azman Muchtar di Jakarta, Minggu (17/6/2012).
 
Menurut Azman, lazim terjadi jika kandidat yang kalah di putaran pertama akan menjual suaranya ke salah satu kandidat yang masuk di putaran kedua. Karena itu, beberapa kandidat lain memilih cara aman untuk tidak menggugat kisruh DPT tersebut.
 
“Jual beli ini lazim karena mereka yang kalah pasti ingin ongkos kampanye yang jumlahnya ratusan miliar bisa kembali lagi. Mereka utangnya kepada bandar, sementara Faisal Basri dan Biem Benjamin hanya utang kepada warga,” kata Azman lagi.
 
Azman menanggapi tudingan Foke Fans Club yang menyebut Faisal-Biem panik dan takut kalah dalam Pemilukada 11 Juli mendatang karena menyebut kisruh DPT merupakan tanggung jawab gubernur saat ini.
 
Menurut dia, justru yang sedang panik saat ini adalah Fauzi Bowo karena bila ia tidak menang satu putaran, ongkos politik dan potensi kalahnya di putaran kedua akan lebih besar.
 
“Bulan depan sudah Puasa dan Lebaran, tentu Fauzi Bowo harus mengeluarkan biaya ratusan miliar untuk menghibur pendukungnya agar tetap setia. Selain itu pada putaran kedua, dia sudah tidak menjabat gubernur sehingga dia tidak lagi bisa menggunakan birokrasi.  Jadi kalau soal panik, Fauzi Bowo yang lebih panik karena faktor-faktor di atas,” tegas Azman.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Yakinkah Anda, wanita-wanita yang terlibat dengan Ahmad Fathanah akan dikenakan sanksi hukum?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat