Paris (AFP/ANTARA) - Enam kali juara Prancis, dua kali juara Piala Prancis, sekali juara Piala Latin dan dua kali runner-up Piala Eropa, itu adalah daftar penghargaan yang membuat iri klub Prancis lain hingga saat ini.
Namun, saat ini sudah lima puluh tahun sejak Stade de Reims terakhir meraih trofi bergengsi.
Saat ini, kebanyakan orang hanya mengasosiasikan Reims, kota yang terletak 150 kilometer di timur laut kota Paris, sebagai kota produksi sampanye. Tetapi ada satu waktu ketika tim sepak bola setempat dikenal di seluruh benua melebihi Taittinger atau Mumm.
Pemasok sampanye sepak bola pada masa pasca-perang di Prancis, bahkan sebelum kekuasaan modern Paris Saint-Germain ada, Reims kini akhirnya kembali ke liga teratas setelah absen selama 33 tahun.
Dan mereka memulai musim baru dengan bentrokan kandang melawan Marseille, klub yang selangkah lebih baik dari Reims dan memenangkan Piala Eropa pada 1993.
Tidak akan ada kursi kosong di antara 21.500 bangku di Stade Auguste Delaune untuk pertandingan pembukaan pada Minggu, yang akan membawa kembali kenangan masa lalu untuk para penggemar Reims dari masa tertentu.
Pada 1945 hingga 1963 dikenang sebagai 'La Grande Epoque,' ketika Reims mendominasi sepak bola Prancis dan menjadi salah satu raksasa Eropa, sebagian besar hal itu berkat sumbangsih Albert Batteux.
Batteux merupakan kapten tim saat meraih gelar liga pada 1949 dan Piala Prancis pada 1950 sebelum menjadi pelatih.
Dialah yang mendatangkan bintang seperti Raymond Kopa dan Just Fontaine saat dia memimpin Reims untuk meraih gelar liga lima kali dalam sepuluh musim 1953-62.
Juga gelar di Piala Latin, cikal bakal Piala Eropa, dengan kemenangan final melawan AC Milan, dan melaju ke final Piala Eropa pertama pada 1956, ketika mereka awalnya unggul 2-0 setelah bermain sepuluh menit melawan Real Madrid di Parc des Princes sebelum akhirnya kalah 4-3.
Mereka mencapai final Piala Eropa sekali lagi pada 1959, tapi sekali lagi tunduk di tangan Madrid dengan kalah 2-0 di Stuttgart.
Tapi, setelah membangun salah satu skuad paling kuat dalam sejarah sepak bola Prancis, Batteux dipecat pada 1963, dan kemudian memenangkan empat gelar liga lagi saat melatih Saint-Etienne.
Reims tidak lagi sama, meskipun konsisten di liga kelas satu pada 1970-an, ketika striker Argentina Carlos Bianchi mencetak 107 gol yang luar biasa dalam empat musim.
Mereka belum cukup bangkit dari masa suram, Reims juga hampir menghilang pada awal 1990, ketika keadaan keuangan mereka membuat mereka diturunkan ke liga kelas keenam.
Keputusasaan klub memaksa mereka untuk menjual relik dan piala di masa kejayaan mereka hanya untuk mengumpulkan dana untuk bertahan dalam bisnis sepak bola, tapi lima promosi dalam 20 tahun berikutnya telah membawa Reims kembali ke liga papan atas. (nm/jk)

