TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tidak ada jaminan koalisi partai politik (parpol) saat putaran kedua Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, bisa memenangkan calon yang diusung bersama. Sebab, belum ada jaminan masyarakat bisa patuh atau mengikuti arahan parpol.
"Yang masih menjadi tanda tanya, apakah koalisi parpol yang sifatnya sangat elitis akan berpengaruh terhadap perilaku pemilih, sehingga mereka tunduk patuh mengikuti pilihan partainya," ujar R Siti Zuhro, peneliti senior LIPI kepada wartawan, Jakarta, Kamis (26/7/2012).
Menurut Siti, hal tersebut menjadi menarik, mengingat pemilih Jakarta kian cerdas dan rasional dalam memilih. Pemilih mendasarkan pada pertimbangan logis, dan kerap sulit diintervensi oleh kehendak parpol.
"Artinya, koalisi partai belum tentu paralel dengan kehendak pemilih di akar rumput. Salah satu alasannya, tergantung apakah koalisi parpol nanti mampu meluncurkan icon baru yang bisa membawahi icon rakyat," tutur Siti. (*)
BACA JUGA
- Putaran Kedua, Panwaslu Fokus pada Black Campaign
- Putaran Kedua Pemilukada DKI PDS Bersikap Abstain
- KPU DKI Imbau Pasangan Calon Tak 'Impor' Saksi ke…
- Warga Jangan Takut Dipersulit RT Jadi Pemilih Tambahan



Yahoo! OMG