Penghargaan buat SBY

Kota Alexandra Berulang Tahun ke-100

Johannesburg (AFP/ANTARA) – Alexandra, salah satu kota di Johannesburg yang terkenal keras, memperingati hari ulang tahunnya yang ke-100 pada tahun ini, dengan harapan revitalisasi sebuah daerah kumuh yang melambangkan ketidak adilan di Afrika Selatan.


Perkampungan kumuh yang menjadi rumah pertama Nelson Mandela di Johannesburg tersebut, berada di seberang sebuah jalan raya dari bangunan-bangunan bertingkat tinggi di Sandton, yang menjadi daerah terkaya di Afrika.


Perayaan hari jadi kota tersebut tampaknya tidak terlalu meriah, dengan sekitar 400.000 orang, sepertiga dari jumlah diyakini merupakan pengangguran, yang berdesak-desakan dalam wilayah seluas 7,6 kilometer persegi.


Namun Philip Bonner, sejarawan di Universitas Witwatersrand, mengatakan: "Fakta bahwa kota itu bertahan pantas mendapatkan perayaan."


Sebuah peristiwa sejarah, Alexandra selamat dari kekerasan yang dilakukan pemerintahan apartheid segregasi Afrika Selatan.


Dikenal dengan sebutan “Alex”, kota itu mulai berdiri pada 1912 ketika sekelompok orang kulit hitam membeli tanah itu dari seorang petani kulit putih yang tidak dapat menemukan pembeli kulit putih.


Kota itu menjadi salah satu dari sedikit wilayah di negara tersebut di mana orang-orang kulit hitam dapat memiliki rumah sendiri, memiliki sebuah tradisi otonomi dan pertahanan yang saat ini menjadi kebanggaan warganya.


Pemerintah Apartheid, bertekad untuk menghancurkan lingkungan kulit hitam yang dilihat sebagai komunitas suram di dekat Sandton. Mereka berusaha mengusir puluhan ribu orang ke kota-kota lain seperti Soweto, sekitar 40 kilometer (25 mil) dari kota tersebut.


Namun mereka tidak pernah bisa mengusir setiap orang, sehingga membuat Alexandra menjadi satu-satunya tempat yang berhasil melawan paksaan relokasi dari pemerintah apartheid.


“Saya tidak ingin pergi ke sana, saya ingin tinggal di sini di Alexandra, karena mereka tidak bertani di sana. Di sinilah kami bertani,” kata Selina Mpisi, seorang lansia berusia seratus tahun yang dijuluki "Lady Alex", yang telah menjadi simbol dari perayaan tersebut. (ai/ik)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.