TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan krisis ekonomi di Eropa bisa masuk ke Indonesia melalui tiga jalur. "Yakni jalur perdagangan, keuangan, dan kepercayaan," ujarnya saat ditemui seusai rapat dengan Komisi Keuangan DPR RI, Selasa, 5 Juni 2012.
Di jalur perdagangan, nilai ekspor diprediksi akan terpukul. Bulan lalu, Badan Pusat Statistik menyebutkan sepanjang April 2012 defisit perdagangan tercatat US$ 641,1 juta. Defisit ekspor-impor ini terbentuk karena nilai impor lebih tinggi dibanding ekspor, yakni impor US$ 16,62 miliar dan ekspor US$ 15,98 miliar. Namun Agus menyatakan, meskipun mempengaruhi stabilitas keuangan, Indonesia tak perlu tergantung pada ekspor.
Ia menyatakan karena sulit mengatur kebijakan ekspor, pemerintah perlu mengendalikan impor. Pembatasan impor harus dilakukan untuk memastikan produksi dalam negeri dapat mencukupi kebutuhan domestik. Syaratnya, pembatasan impor harus memperhatikan kebutuhan dalam negeri. Pasalnya, hal ini berisiko menimbulkan kelangkaan dan memicu inflasi.
Di jalur keuangan dan kepercayaan. Agus menyatakan kondisi Eropa menyebabkan pemerintah mengkonsolidasikan penyehatan keuangan. Untuk mengantisipasinya, pemerintah telah menyiapkan protokol manajemen krisis. Fungsinya adalah mempertahankan kesehatan fiskal, menjaga rasio utang, dan memperkuat ekonomi domestik.
"Dari sisi ketahanan fiskal, pemerintah optimistis akan tetap dapat menjaga defisit APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) di bawah 3 persen," ujarnya. Sedangkan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, pemerintah akan terus memperbaiki iklim investasi dan meningkatkan kondisi infrastruktur.
Di sektor utang, baru-baru ini pemerintah mendapatkan fasilitas pinjaman sebesar US$ 2 miliar dari Bank Dunia. Namun dana ini baru bisa digunakan bila pemerintah tak memenuhi kebutuhan pembiayaan dan defisit anggaran. Bila krisis Eropa memburuk, defisit yang ditetapkan dalam asumsi makro sebesar 2,23 persen akan makin melebar.
Dengan langkah-langkah ini, Agus yakin di tengah situasi ekonomi global yang bergelombang, Indonesia akan memiliki ketahanan ekonomi yang cukup baik untuk menghadapinya.
M. ANDI PERDANA


