Jakarta (ANTARA) - Bank BNI pada kwartal III 2012 mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 24,5 persen, meningkat dari Rp4,1 triliun pada kuartal III 2011 menjadi Rp5,04 triliun yang didorong pertumbuhan pendapatan operasional sebesar 12,1 persen.
Dirut BNI Gatot M Suwondo di Jakarta, Senin mengatakan, pertumbuhaan laba tinggi tersebut merupakan hasil dari perbaikan kinerja yang terus dikembangkan, tidak hanya pada layanan perbankan konvensional, seperti kredit, melainkan juga perbaikan kualitas layanan ekstra, seperti cash management hingga "trade finance".
Peningkatan pendapatan operasional BNI bersumber dari pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang melonjak 19 persen, yakni dari Rp9,4 triliun pada kuartal III 2011 menjadi Rp11,2 triliun pada akhir pada kuartal III 2012.
Tumbuhnya pendapatan bunga bersih itu merupakan konsekuensi dari pertumbuhan kredit yang secara ekspansif dilakukan BNI.
Sementara untuk Loan to Deposit Ratio (LDR) mengalami penurunan, dari 78,3 persen pada kuartal III 2011 menjadi 76,8 persen pada kuartal III 2012, yang disebabkan turunnya porsi pembiayaan dalam dolar AS, karena BNI fokus pada pembiayaan dalam denominasi rupiah, sehingga dana terkonsentrasi di dalam negeri.
Untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun BNI pada akhir kuartal III 2012 mencapai Rp238,9 triliun, naik dari sebelumnya Rp204,4 triliun pada kuartal III 2011 dan sebagian besar berbentuk dana murah, yang ditandai meningkatnya CASA atau sumber dana murah sebesar Rp31,7 triliun, sehingga komposisi dana murah pada DPK yang terhimpun pun meningkat dari 60 persen pada kuartal III 2011 menjadi 64 persen terhadap DPK pada kuartal III 2012.
Hal tersebut memungkinkan karena terjadi lonjakan nilai tabungan dari Rp66,9 triliun pada kuartal III 2011 menjadi Rp83,3 triliun pada kuartal III 2012. Basis penabungnya pun semakin meluas dengan pertumbuhan jumlah rekening dari 12,7 juta rekening pada kuartal III 2011 menjadi 14,3 juta rekening pada kuartal III 2012.
Kondisi tersebut menyebabkan biaya dana yang harus ditanggung BNI menjadi turun 0,7 persen dari 3,5 persen pada kuartal III 2011 menjadi 2,8 persen pada kuartal III 2012.
Aset BNI tumbuh 15,6 persen pada akhir kuartal III 2012 dibandingkan kuartal III tahun 2011, menjadi Rp310,4 triliun. Pertumbuhan aset tersebut terutama tercipta oleh nilai kredit yang tumbuh 14,8 persen, yakni dari Rp160,7 triliun pada triwulan III 2011 menjadi Rp184,5 triliun pada periode yang sama tahun 2012.
Ini menunjukkan aset produktif yang dimiliki BNI terus meningkat, dan menjadi sumber pendapatan utama. Sekitar 35 persen, atau porsi terbesar, dari total kredit BNI mengalir pada segmen korporasi.
Dari delapan sektor yang menjadi fokus aliran kredit korporasi BNI, proyek infrastruktur menjadi target yang diutamakan. Kondisi ini pun menjadi catatan khusus dukungan BNI terhadap perekonomian nasional yang sedang sangat membutuhkan penambahan infrastruktur.
BNI juga menyokong sektor penghasil lapangan kerja massal, yakni manufaktur, karena 18 persen dari total kredit, atau komposisi terbesar, mengalir ke sektor ini.
Kredit untuk pelaku usaha menengah tumbuh 21,8 persen, yakni dari Rp26,9 triliun pada kuartal III 2011 menjadi Rp32,7 triliun per kuartal III 2012. Ada pun aliran kredit untuk para pengusaha kecil tumbuh 17,8 persen, yakni dari Rp28,2 triliun pada kuartal III 2011 menjadi Rp33,2 triliun pada kuartal III 2012.(rr)


