Lamang Tapai Penawar Rindu Ramadan di Tanah Minang

TRIBUNNEWS.COM- Tidak perlu heran bila orang Minang terkenal akan warisan kuliner mereka yang luar biasa kaya. Semua juga tahu kalau rumah makan Padang ada di mana-mana dan menjadi menu yang bisa diterima oleh siapapun. Tapi, apa sebenarnya kuliner khas orang Minang di bulan Ramadan?

Lamang Tapai adalah salah satunya. Lamang adalah beras ketan yang dimasak dengan santan dalam bambu muda. Bahan utamanya, beras ketan putih, santan kelapa, daun pandan, dan sedikit garam. Bagi penulis yang wong Suroboyo nothok, lamang mirip seperti lemper, hanya saja, tanpa isian (stuffed) ayam atau daging.

Untuk membuat lamang, seseorang memerlukan sebilah ruas bambu muda. Setelah beras ketan dicuci, lalu dimasukkan ke ruas bambu muda, yang bagian dalamnya terlebih dahulu dilapisi daun pisang.

Kemudian, dituangkan santan ke dalamnya, lalu dibakar. Membakarnya mesti hati-hati, sehingga tidak sampai ruas bambu terbakar. Sementara tapai, adalah tape. Dalam urusan lamang tapai, tape yang dimaksud adalah tape ketan hitam, lengkap dengan kuahnya.

Di Bukittinggi, juga di beberapa daerah di Sumatera Barat, lamang tapai marak dijumpai di sejumlah pasar tradisional. Makanan ini memang khas Minang.

Di Tanah Minang, makanan ini kerap menjadi menu wajib di sejumlah pesta rakyat, seperti resepsi pernikahan, atau khitanan. Tapi, beberapa orang Minang yang ditemui penulis tidak membantah, lamang tapai juga identik sebagai makanan khas di bulan Ramadan.

Bagi orang Minang, lamang tapai adalah menu yang pas sebagai takjil saat berbuka puasa. Lamak Bana (enak sekali), begitu kira-kira kata orang Minang. Nah, di Surabaya, cukup sulit menemukan rumah makan Padang yang menjual menu satu ini. Tapi, menu ini ternyata dijual di pasar kaget Masjid Al Akbar Surabaya (MAS). Anda yang penasaran bisa mendapatkannya di kios Lamang Tapai Kamang Maimbau, di sisi barat MAS.

Tak perlu sungkan, karena penjualnya, Uda Iwan Manuroza (42), akan melayani dengan ramah dan akan memberitahu bagaimana cara membuat sebuah lamang tapai.

Saat saya mencobanya, rasa lamang tapai memang unik. Padanan beras ketan yang manis nan gurih, berpadu dengan tape ketan hitam yang masam. "Lamang ini tidak hanya di Minang, di Aceh dan Medan juga ada. Yang membedakan pelengkapnya," ujar Uda Iwan.

Seporsi lamang tapai Kamang Maimbau dihargai Rp 10.000. Tapi, yang ingin mencicipi lamang saja (tanpa tapai), cukup Rp 6.000.

"Kami jual hanya setiap ada Bazaar Ramadan di Masjid Agung saja. Sehari-hari kami tidak jualan, tapi kerap terima pesanan dari orang perantauan Minang yang mau punya hajatan," tambah warga Jl Bebekan RT XIII ini.

Kuliner
  • Angkringan Panjer Wengi Hadirkan Kehangatan Nuansa Jawa
  • Green Canyon yang Menyegarkan
  • Martabak Mini Sosis Cocok untuk Menu Buka Puasa
  • Wader Gajah Mungkur yang Menggoda
  • Modernisasi Kue Balok 'Mencuri' Selera Anak Mud
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Yakinkah Anda, wanita-wanita yang terlibat dengan Ahmad Fathanah akan dikenakan sanksi hukum?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat