Lampard: Kami Bisa Belajar dari Olimpiade

Bern (AFP/ANTARA) - Gelandang Inggris, Frank Lampard, mengakui bintang-bintang Liga Utama Inggris dapat mempelajari sesuatu dari semangat yang dibawa atlet-atlet Inggris Raya saat memperlihatkan kemampuan terbaik di Olimpiade.


Tim Inggris Raya mengumpulkan 65 medali, termasuk 29 medali emas. Itu adalah penampilan terbaik mereka sejak London pertama kali menjadi tuan rumah Olimpiade pada 1908, dan kesuksesan mereka nampaknya telah menjadi dorongan utama terhadap negeri itu secara keseluruhan.

Namun setelah 17 hari bersuka cita menyaksikan tim Inggris Raya, banyak pihak sekarang merasa khawatir terhadap prospek dimulainya musim kompetisi sepak bola yang baru, di mana pemain-pemain bintang Liga Utama Inggris yang digaji terlalu tinggi dan hanya menimbulkan kehebohan akan kembali mendominasi media massa.

Berbicara pada malam menjelang pertandingan persahabatan Inggris melawan Italia di ibukota Swiss, Bern, Lampard membela reputasi sepak bola, namun mengakui bahwa ada pelajaran dari permainan itu yang dapat diambil.

"Olimpiade adalah kesempatan fantastis, dan kami beruntung dapat menyelenggarakannya, dan menyelenggarakannya dengan begitu baik," ucapnya.

"Anda mendapatkan perbandingan nyata. Kami tahu bahwa kami memiliki kegagalan di sepak bola, dan hal itu dirasakan juga oleh masyarakat."


"Suasana para penonton dan interaksi bersama antara negara-negara yang berbeda adalah hal hebat untuk dilihat. Saya pikir jika kami dapat mengambil pelajaran dari Olimpiade, maka kami akan lebih baik untuk hal itu (sepak bola)."


Bintang Chelsea itu mengatakan ia merasa "sangat beruntung" untuk berada di Stadion Olimpiade, dan menyaksikan kehebatan Usain Bolt di nomor 200 meter dan pemecahan rekor dunia nomor 800 meter oleh atlet Kenya, David Rudisha, namun ia menegaskan bahwa terdapat banyak alasan mengapa sepak bola akan selalu tetap unik.

"Saya pikir alami untuk membandingkan sepak bola dan tim Inggris Raya. Tim Inggris Raya tampil sangat baik, dan dalam cara yang sangat sportif," tuturnya.

"Suasana di sepak bola adalah hal yang sangat berbeda ketika anda berada di stadion. Itu dapat menjadi sangat bermusuhan di dalam maupun di luar lapangan."


"Saya pikir kita semua mencintai sepak bola karena memang seperti itu, dan jika anda melakukannya itu tidak akan sama. Pada sepak bola, kami semua lahir dengan loyalitas-loyalitas, dan itu menjadi seperti agama bagi orang-orang yang menyaksikannya."


"Saya yakin dalam dua bulan kami semua akan kembali normal, namun mari berharap kami dapat mempelajari beberapa hal dalam waktu yang sama." (nm/jk)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.