Bukittinggi (ANTARA) - Status waspada level II Gunung Marapi di Kabupaten Tanahdatar dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat sudah mencapai 10 bulan, kata petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Warseno.
"Tanda-tanda akan diturunkan status gunung yang memiliki tinggi 2.891 meter dari permukaan laut (mdpl) dari waspada level II itu belum bisa dilakukan karena gunung masih mengeluarkan letusan," katanya di Bukittinggi, Kamis.
Menurut dia, status itu belum diturunkan menjadi aktif normal karena gunung masih terdeteksi mengalami peningkatan aktivitas.
"Saat ini gunung masih mengeluarkan letusan dan gempat tektonik meski tidak sesering pertama kali mengalami peningkatan pada 3 Agustus 2011," katanya.
Dia berharap masyarakat di sekitar gunung serta para pendaki untuk tidak mendaki pada radius tiga kilometer dari puncak gunung.
Peningkatan aktivitas Gunung Marapi terjadi 3 Agustus 2011 dan sempat mengeluarkan abu vulkanik berbau belerang dengan ketinggian mencapai 1.000 meter dan menjangkau sejumlah daerah, seperti Agam, Tanahdatar, Padangpariaman, dan Padangpanjang.
Salah satu gunung aktif di Sumbar itu terakhir kali meletus pada 2005. Dalam kondisi aktif normal, gunung yang berdampingan dengan Gunung Singgalang dan Tandikek itu menjadi salah satu tujuan bagi pendaki dari dalam maupun dari luar Sumbar.
Setiap pergantian tahun baru, gunung selalu ramai oleh pendaki. Akses pendakian Gunung Marapi mudah dicapai. Jalur pendakian dimulai dari Kotobaru, Tanahdatar. Kawasan Gunung Marapi merupakan area konservasi di Sumbar, yakni Suaka Alam Merapi.
Dalam catatan ANTARA, Gunung Marapi terhitung sejak akhir abad 18 hingga 2008 tercatat sudah 454 kali meletus, 50 di antaranya dalam skala besar. Saat dalam status siaga, Kota Bukittinggi merupakan salah satu daerah evakuasi. (tp)


Yahoo! OMG