Malaysia Usulkan "Open Plattform" untuk ASEAN

Bandung (ANTARA) - Malaysia mengusulkan "open plattform" atau sistem data terbuka yang bisa diakses oleh seluruh masyarakat ASEAN untuk meningkatkan inovasi kawasan Asia Tenggara dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Usul tersebut disampaikan oleh Menteri Iptek dan Inovasi Malaysia, Datuk Seri Panglima Maximus Johnity Ongkili, sebagai pembicara dalam sesi panel tingkat menteri iptek ASEAN pada seminar internasional ke-10 Triple Helix di Hotel Grand Panghegar, Bandung, Jumat.

Menurut Ongkili, "open plattform" untuk saling bertukar informasi di antara sepuluh negara anggota ASEAN itu bisa menyuburkan inovasi di kawasan Asia Tenggara yang ingin mentransformasi pembangunan eknonomi dari berbasis sumber daya alam menjadi pembangunan ekonomi berbasis inovasi dan teknologi.

"Dengan sistem ini populasi ASEAN yang mencapai 600 juta akan mendapat keuntungan dari mengatasi masalah bersama di kawasan seperti masalah kesehatan, perumahan murah, dan ketahanan pangan," tuturnya.

Sistem informasi terbuka itu, lanjut dia, juga akan meningkatkan pengetahuan dan memperlebar kerjasama strategis di antara negara-negara ASEAN selain menyediakan kesempatan bisnis.

"Sekarang ASEAN belum pada tahap ini. Saat ini ASEAN hanya berbagi apa yang dirasakan perlu untuk dibagi," ujarnya.

Hal serupa disampaikan oleh pembicara dari Indonesia, Deputi Menristek Bidang Jaringan Iptek Amin Soebandrio, yang menganjurkan perbaikan infrastruktur di kawasan Asia Tenggara agar negara-negara anggota ASEAN lebih terhubung baik secara fisik maupun melalui jaringan informasi teknologi.

"Perbaikan infrastruktur itu akan menghubungkan berbagai lembaga riset di kawasan ASEAN," ujar Amin.

Kerangka kerjasama ASEAN, menurut Amin, saat ini telah memungkinkan bagi suatu lembaga riset untuk mengimplementasikan hasil penelitian secara lintas negara.

Ia mengatakan kerjasama tersebut bisa dipastikan akan menguntungkan semua pihak apabila masing-masing pihak mengerti hak-hak dan kewajibannya.

Panel menteri ASEAN pada seminar internasional ke-10 Triple Helix menghadirkan pembicara Menteri Iptek dan Inovasi Malaysia Maximus Johnity Ongkili, Wakil Menteri Iptek Filipina Fortunato T De la Pena, Wakil Menteri Iptek Viet Nam Le Dinh Tien, Pejabat Senior Departemen Ilmu dan Teknologi Laos Silap Boupha, serta Sekjen Kementerian Industri, Pertambangan, dan Energi Kamboja Chea Sing Hong.

Masing-masing pembicara dalam panel tersebut memaparkan kemajuan kebijakan inovasi di negaranya dan menyepakati saling berbagi pengalaman dalam praktik implementasi kebijakan tersebut.

Inovasi merupakan salah satu pilar yang disepakati oleh 10 negara Asia Tenggara untuk mewujudkan komunitas ASEAN pada 2015 yang berbasis riset, inovasi, daya saing serta harmoni.(rr)




PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.