BERITASATU.COM - Warung Kopi ini terkesan begitu sederhana dan terlihat seperti rumah biasa
Budaya minum kopi sudah mengakar begitu kuat di banyak daerah di Indonesia, tidak terkecuali masyarakat di kota Ambon. Warung kopi dapat ditemui hampir di setiap sudut kota.
Dari banyak nama, Kopi Joas merupakan warung kopi yang paling ramai dikunjungi. Mulai dari pagi hingga sore, warung kopi tradisional ini dipenuhi oleh para penikmat kopi yang rata-rata adalah pria. Sambil menikmati jajanan tradisional khas Maluku, para pengunjung menikmati kopi panas sembari berbincang dengan teman-teman.
Orang di balik kesuksesan Kopi Joas adalah Joas Layan, seorang pria ramah berusia 52 tahun. Joas, begitu ia biasa disapa oleh para pelanggan setianya, besar di sebuah desa kecil di Maluku Tenggara sebelum ia pindah ke Ambon di tahun 1972. Ia bekerja di sebuah warung kopi di tahun 1983, sebelum akhirnya ia membuka warung kopinya sendiri 12 tahun yang lalu.
Saat ini, Joas memiliki tiga cabang yang tersebar di kota Ambon dan mempekerjakan lebih dari 50 orang karyawan. Setiap harinya ia mengolah 300 sampai 400 kilogram biji kopi.
Joas menyebutkan bahwa ia hanya menggunakan kualitas biji kopi terbaik untuk para pelanggannya. Rahasia di balik nikmatnya kopi di tempatnya, menurutnya, adalah hasil racikan biji kopi Arabika dan Robusta berkualitas tinggi.
“Menjaga kualitas kopi merupakan hal yang sangat penting,” ujar Joas.
Tidak seperti masyarakat di pulau Jawa yang cenderung lebih suka menikmati kopi hitam, penikmat kopi di Ambon menyukai kopinya dicampur dengan susu.
Kopi susu Ambon memiliki rasa yang sangat khas, hasil dari percampuran susu manis kental dan kopi berkualitas tinggi.
Selain kopi, Kopi Joas juga menyediakan banyak pilihan makanan kecil, salah satunya Pisang Mangkal. Digoreng dengan tepung yang tidak terlalu banyak, menu pisang tradisional ini merupakan favorit di tempat ini.
Dibandingkan tempat-tempat kopi di Jakarta yang sangat modern, Kopi Joas sangatlah berbeda. Warung Kopi ini terkesan begitu sederhana.
Dari luar, Kopi Joas hanya terlihat seperti rumah biasa, kecuali banyaknya motor yang diparkir di depannya. Tidak ada alat pendingin udara seperti layaknya tempat-tempat kopi di Jakarta. Pintu dan jendela dibiarkan terbuka lebar sehingga udara segar bisa masuk.
Kopi Joas memiliki ruangan yang cukup luas, dipenuhi oleh meja marbel, kursi kayu dan pot tanaman. Di dalam suasananya sangat hangat dan bersahaja. Begitu masuk, pelanggan akan disapa oleh keramahan para pelayan.
Namun mungkin justru hal itu yang membuat Kopi Joas spesial. Joas mengatakan bahwa warung kopinya selalu digunakan sebagai tempat untuk bercengkrama.
“Orang-orang senang menghabiskan waktu mereka di sini,” tambah Joas.
Joas juga menyebutkan dengan bangga bahwa warung kopinya sudah menjadi semacam ikon kota Ambon. Banyak acara penting diadakan di tempat tersebut, katanya. Joas bahkan mengatakan bahwa banyak artis ibukota yang pernah singgah di Kopi Joas.


2 komentar