H+5 Terperangkap

Menperin: Produk "Converter KIT" Tidak Coba-Coba

  • Tekanan Kabin Drop, Lion Air Gagal Terbang

    Tekanan Kabin Drop, Lion Air Gagal Terbang

    Tempo
    Tekanan Kabin Drop, Lion Air Gagal Terbang

    TEMPO.CO, Surakarta - Pesawat maskapai Lion Air dengan nomor penerbangan JT 535 rute Solo-Jakarta gagal terbang dari Bandara Internasional Adi Soemarmo Solo pada Minggu, 19 Mei 2013. Semestinya pesawat diberangkatkan pukul 13.45 dengan membawa 169 penumpang. Tapi pesawat tak kunjung berangkat karena ada kendala teknis.

  • KAI Siapkan Kereta Tambahan untuk Mudik  

    KAI Siapkan Kereta Tambahan untuk Mudik  

    Tempo
    KAI Siapkan Kereta Tambahan untuk Mudik  

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) sedang mempertimbangkan pengoperasian kereta tambahan untuk masa mudik Lebaran tahun ini. "Masih dibahas, mudah-mudahan nanti awal Juni sudah ada," kata Juru Bicara KAI Daerah Operasi I (Daop I) Jabodetabek, Sukendar Mulya, saat dihubungi Tempo, Minggu, 19 Mei 2013.

  • SBY Umumkan Menkeu Baru Jam 2 Siang Ini  

    SBY Umumkan Menkeu Baru Jam 2 Siang Ini  

    Tempo
    SBY Umumkan Menkeu Baru Jam 2 Siang Ini  

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara presiden, Julian Aldian Pasha memastikan nama menteri keuangan yang baru akan diumumkan sekitar pukul 14.00 WIB di Kantor Presiden. Meski enggan menyebut nama calon yang akan diumumkan, ia tidak menampik bahwa presiden saat ini sedang bertemu dengan calon menteri keuangan untuk uji kelayakan dan kepatutan singkat.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan bahwa "converter kit" dalam program konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas bukanlah produk coba-coba.

"Jangan coba-coba kita kembangkan sendiri `converter kit` tersebut, tapi melakukan alih teknologi dari pihak yang sudah terbukti seperti Korea Selatan dan Italia," kata MS Hidayat di Jakarta, Kamis.

Sebanyak 25 ribu unit "converter kit" asal Korea Selatan dan Italia rencananya akan diimpor untuk mendukung program konversi, karena menurut Hidayat, Korsel sudah memasang `converter kit` di semua transportasi umum, sedangkan Italia sudah memasang dan mengekspor mobil dengan `converter kit` ke Eropa dan Amerika Latin.

"Jadi kami menjalin mitra untuk alih teknologi `converter kit` yang sudah terbukti, bukan memulai dari awal atau coba-coba, memang ada sedikit produk yang diimpor agar konversi berjalan cepat, tapi prinsipnya nanti akan diproduksi di dalam negeri," tambah Hidayat.

Sebelumnya, Menperin mengatakan bahwa ada tiga BUMN, yaitu PT Wijaya Karya, PT Dirgantara Indonesia, dan PT Pindad yang mendapat tugas menyediakan "converter kit".

"Hingga saat ini masih dibicarakan apakah ke tiganya hanya akan alih teknologi atau `joint venture` dengan perusahaan asing, tapi mereka juga bisa bekerja sama dengan perusahaan swasta nasional," katanya.

Pemerintah berencana melakukan konversi BBM ke BBG pada Mei di wilayah Jabodetabek dan selanjutnya di kawasan Jawa dan Bali.

"Saya harus mengakui idealnya harga BBM bersubsidi dengan harga BBG terpaut 50-60 persen agar masyarakat dapat beralih ke BBG, bila jarak harga masih kecil seperti sekarang, minat masyarakat pun kecil," jelas Hidayat.

Saat ini harga BBM bersubsidi yaitu premium dan solar Rp4.500 per liter, sedangkan harga BBG jenis terkompresi (compressed natural gas/CNG) adalah Rp3.100 setara premium (LSP).

"Saya juga menghimbau produsen otomotif mulai tahun depan dapat memasang `converter kit` di produknya," ungkap Hidayat.

Terkait dampak rencana pemerintah untuk melakukan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi pada mobil dengan kapasitas mesin (cc) di atas 1.300 cc, MS Hidayat mengatakan hal tersebut tidak terlalu berpengaruh bagi produsen otomotif.

"Sejak 2008, semua produsen otomotif sudah menyesuaikan diri dengan sistem RON 92, jadi sebetulnya memang harus menggunakan pertamax, hanya bagaimana melakukan penyesuaian teknis," jelasnya.

Hal yang menjadi masalah, menurut Menperin adalah bagaimana membatasi penggunaan BBM bersubsidi bagi yang kurang berhak artinya mereka yang mampu menggunakan pertamax tapi menggunakan BBM bersubsidi, pemerintah berupaya membuat aturan pembatasan yang tidak diskriminatif.

Sebelumnya Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan bahwa pemerintah masih membahas aturan pembatasan BBM bersubsidi namun belum mau menjelaskan aturan dan teknis pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi tersebut. (rr)



PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Yakinkah Anda, wanita-wanita yang terlibat dengan Ahmad Fathanah akan dikenakan sanksi hukum?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat